2

Etika Utang-Berutang

Sebenarnya ada nggak sih kata utang-berutang dalam KBBI? *serius nanya*

Haha. Anyway, hari ini saya mau bahas masalah etika mengutang. Iya. Utang. Sebenarnya ini mau curhat aja, sih πŸ˜‚

Jadi ceritanya begini, akhir bulan Maret kemarin saya dihubungi oleh salah seorang teman lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget lewat inbox di Instagram saya. Fyi, dulu waktu saya masih kecil sekitar 20an tahun lalu, doi ini teman main saya gitu. Tapi beberapa tahun kemudian dia pindah ke suatu tempat dan saya lost contact sama sekali dengan doi. Singkat cerita, akhirnya kami bertemu kembali lewat dunia maya beberapa tahun lalu. Awalnya lewat Facebook. Kemudian merambahlah ke Instagram. Saya nggak ingat siapa duluan yang add dan follow. Hanya saja sejak pertama kali berteman di Facebook, saya dan dia nggak pernah japri-japrian. Intinya cuma sekadar kami teman lama yang akhirnya bertemu di dunia maya.

Hingga akhir Maret lalu, doi mengirim pesan lewat Instagram pada saya. Basa-basi nanya kabar dan juga nomor handphone saya. Saya yang saat itu nggak ada prasangka apa-apa dengan senang hati membalas pesan si doi, dong. Hingga akhirnya dia mengirim pesan whatsapp ke saya dan nanya “Kamu lagi ada uang nggak?” Jder! Saya langsung feeling nggak enak, nih. Trus dia mulai curhat kalau dia lagi kena masalah nunggak kartu kredit gitu dan suaminya gajian tiap tiga bulan sekali dan dia lagi hamil gitu bla bla bla. Rupanya si doi ini mau pinjam uang yang menurut saya jumlahnya nggak sedikit untuk bayar utang kartu kreditnya.

Source: Google

Saya yang waktu itu memang nggak punya uang akhirnya bilang ke doi kalau saya nggak bisa bantu. Saya jelasin kalau saya juga punya tanggungan bla bla bla. Lagian seandainya saya punya uang sebanyak utang kartu kredit dia pun saya nggak mau minjemin doi uang, sih. Lha yang pakai kartu kreditnya dia, kenapa harus saya yang bayar? Begitu logika saya saat itu. Saya sendiri aja nggak punya kartu kredit! πŸ˜₯
Saya berhasil menolak doi. Tapi kemudian lusanya doi kirim whatsapp lagi ke saya. Kali ini pinjam 150 rebu saja! Alasannya dia nggak ada ongkos untuk ke bank yang mengeluarkan kartu kreditnya itu. Katanya sih dia mau ke bank itu buat minta keringanan. Sebagai teman yang bodoh baik, akhirnya saya mengirimkan uang padanya. Berhenti sampai di situ? Rupanya tidak, sodara-sodara! Minggu depannya dia whatsapp saya lagi mau pinjam uang 150 rebu lagi buat ongkos! Kebetulan saat itu hari Minggu dan jadwal saya di Minggu siang adalah tidur-tidur tjakep, jadi saya baru baca whatsapp doi sore hari dan akhirnya saya nggak balas, deh. 

Sejak saat itu doi nggak pernah whatsapp saya lagi. Sampai akhirnya hari ini yang mana dua bulan kemudian dari sejak dia whatsapp saya untuk pertama kalinya, saya menagih utang. Ah, biarin deh dibilang “Pelit amat sih cuma utang segitu doang aja pake ditagih-tagih”. Biar kata cuma 150 rebu juga duit, tau. Bisa buat ongkos saya ke kantor tuh seminggu 😰 

Sebenarnya saya nggak mempermasalahkan jumlah uangnya sih meskipun saat ini saya bokek berat tapi mbok ya berutang juga pakai etika πŸ˜• Maksud saya, doi ‘kan sudah lama ya nggak japri saya trus ujug-ujug japri tapi cuma buat ngutang yang nominalnya jutaan, bro! Padahal waktu dia nikahan saja saya nggak di message sama dia, waktu ulang tahun saja nggak pernah diucapin juga padahal ‘kan temenan di dunia maya. Itu salah satu faktor yang bikin saya agak ilfil, sih. Selain itu, setelah tragedi saya-bobok-siang-tjakep-di-hari-Minggu dan telat baca pesan dari dia yang mau ngutang lagi, doi nggak kontak-kontak saya lagi sejak saat itu. Duh, padahal waktu mau ngutang itu doi whatsapp saya ngucapin selamat hari Minggu segala, nanya saya kerja di mana dan basa-basi lainnya.

Source: Google

Terus, inti postingan ini apa? Yah. Saya cuma mau curhat aja! Haha. Nggak, deh. Saya cuma mau berbagi kalau mau ngutang tuh tolong perhatikan dulu pada siapa kita akan ngutang. Jangan tiba-tiba kontak teman sekelas waktu TK dulu terus langsung ngutang 20 juta buat kawin misalnya. Euh! πŸ˜₯ Bukannya diutangin nanti malah diajak kawin, lho! *Eh πŸ™Š Selain itu, salah satu tips aman dari utang adalah nggak usah pakai kartu kredit kartu kreditan lah kalau memang nggak bisa mengatur cashflow dengan baik. Lha gimana bisa lunas kalau mau bayar tunggakan kartu kredit saja malah ngutang ke orang lain. Kalau memang mau pakai kartu kredit pastikan kamu punya cashflow yang baik. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, gaes! Masa’ kamu yang gesek kartunya aku yang disuruh bayarin dulu? πŸ˜₯ Terakhir, waspada deh kalau tiba-tiba ada teman lamaaaaaaaa kamu yang mengontak kamu lewat medsos padahal sebelumnya nggak pernah japri kamu. Bisa jadi temanmu mau ngutang atau mau ngasih undangan nikah dia sama mantan gebetan kamu πŸ˜‚
Salam anak baik!

0

K-Drama: Goblin (도깨비)

μ•ˆλ…•ν•˜μ„Έμš”! 

New K-drama’s back! Selesai nonton My Wife is Having an Affair This Week, saya kembali lagi dengan drama baru berjudul Goblin. Sampai tulisan ini saya posting, drama yang dibintangi om-om tampan ini baru sampai episode 4. Masih jauh, ya! Padahal saya sudah nggak sabar untuk melihat endingnya. Huhuhu.

Cerita dimulai dari seorang Kim Shin (diperankan Gong Yoo) yang dulunya seorang jenderal perang yang dihabisi nyawanya atas perintah sang Raja. Kim Shin pun akhirnya menjadi goblin dan hidup selama beratus-ratus tahun kemudian dalam keabadian. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah sebuah anugerah, namun bagi Kim Shin ini adalah sebuah mimpi buruk. Ditakdirkan menjadi goblin dan hidup dalam penyesalan bukanlah anugerah baginya.
Suatu ketika Kim Shin tanpa sengaja muncul di hadapan seorang Ibu muda yang sekarat di tengah salju. Sang Ibu muda memohon pada Kim Shin saat itu untuk menolongnya. Kim Shin pun menolong sang Ibu yang rupanya tengah mengandung putrinya dengan memberinya “kehidupan baru”. 

Beberapa tahun kemudian bayi yang dilahirkan oleh si Ibu muda yang ditolong Kim Shin tumbuh menjadi sosok yang mampu melihat hal-hal supranatural di sekitarnya. Ji Eun Tak (diperankan oleh Kim Go Eun)-nama anak tersebut-harus kehilangan ibunya di usia muda. Ia pun akhirnya diurus oleh keluarga sang bibi yang memperlakukannya dengan kejam. Suatu ketika di hari ulang tahunnya, Ji Eun Tak meniup lilin yang dipasangkan pada kue ulang tahun. Tak sengaja ia justru memanggil Kim Shin. Mereka pun bertemu dan Eun Tak mengaku sebagai pengantin goblin!

Oh ya, selain om Gong Yoo, drama ini juga diperankan oleh om yang nggak kalah ganteng, lho. Lee Dong Wook adalah salah seorang partner bromance Gong Yoo dalam drama ini. Haha. Kenapa saya sebutnya bromance? Kalian harus tonton sendiri. Dijamin bakal senyum-senyum lihat kelakuan Gong Yoo dan Lee Dong Wook dalam drama ini. Bedanya kalau Gong Yoo berperan sebagai seorang goblin, Dong Wook justru berperan sebagai grim reaper yang kehilangan ingatannya. Doi bertugas menjemput orang-orang yang baru saja meninggal. Yah, kalau malaikat mautnya ganteng kayak begini sih…. Ng…. Selain om-om dua itu ada juga oppa Yook Sung Jae yang berperan sebagai ‘keponakan’ dari Kim Shin. 

Info menarik lainnya adalah script writer dan PD dari drama Goblin ini nggak lain nggak bukan adalah script writer dan PD yang sukses membuat drama Descendants of The Sun. Wohooo! Pantesan saja jalan ceritanya keren. Poin plus lainnya dari drama Goblin ini saya suka special effect yang muncul dan bagaimana para aktor serta aktris memainkan perannya. TOTALITAS! Memang ya drama Korea nggak ada matinya. Psst! Drama yang tayang tiap hari Jumat dan Sabtu waktu Korea di tvN ini dengar-dengar ratingnya mengalahkan drama Reply 1988, lho.

Gimana? Sudah penasaran belum dengan drama satu ini? Saya saja penasaran banget mau cepat-cepat Jumat minggu depan biar bisa nonton lagi *eh 🙈 Sekian info K-Drama dari saya! Sampai jumpa di drama selanjutnya, ya!

For other reference: klik di sini

2

Lazada: Salah Satu Pilihan Mudah Belanja Online

Another e-commerce review. But this is not a-first-impression-post like my previous post karena bisa dibilang saya sering berbelanja di e-commerce yang satu ini. Hahahak!

P.S.: Ini bukan postingan berbayar and I am not their employee. Saya hanya ingin share saja rasanya belanja di Lazada 😄Siapa tahu bisa memberi informasi bagi para pembaca yang ingin belanja online. 😄

Sedikit flashback, awalnya saya tahu Lazada dari si Mamas. Dia sudah beberapa kali beliin saya barang di situ. Mulai dari boneka segede gambreng sampai mini travel size produk kecantikan yang ternama itu, sebut saja SK ** dibelikan Mamas lewat Lazada. So, saya sudah nggak asing lagi dengan e-commerce yang satu ini. Barang pertama yang saya beli di Lazada apa, ya? Umm.. Kalau nggak salah ingat sih mini travel size produk kosmetika tadi. Waktu itu kebetulan yang dari Mamas habis, so saya langsung pesan lagi ke Lazada.

banyak yang jual hardisk yeay!

biasakan baca review ya

Oh ya, di Lazada banyak seller-nya, kok. Tinggal search mau barang apa atau merk apa, terus nanti muncul deh pilihannya. Mulai dari yang bintangnya banyak sampai nggak ada bintangnya alias belum ada review, mulai dari yang harganya normal sampai yang miring-miring, pokoknya beragam, deh. Pintar-pintarnya kita saja sebagai pembeli untuk teliti dan menentukan. Langkah belanja di Lazada pun gampang. Dan saya sudah terbiasa mengikuti langkah ini karena nggak ribet. Saya punya apps Lazada di smartphone saya dan biasanya saya log in dari situ. Setelah log in (pastikan kamu buat akun di Lazada dulu) tinggal cari barang yang ingin dibeli, deh. Kebetulan kemarin saya habis beliin Mamas dompet dan hardisk eksternal buat kado ulang tahun Mamas Hahaha. Kalau dompet memang si Mamas yang minta sendiri. Dompet dia sudah buluk terus robek-robek, jadi boleh lah ya saya kasih dompet. Sebenarnya dia lagi butuh sepatu kerja juga, sih. Mungkin ada yang berminat endorse si Mamas dengan memberikan sepatu kerja? Nanti saya tulis di blog saya ini, deh *uhuk* *macak professional blogger* Mungkin banyak yang bertanya kenapa saya kasih hardisk bukan sepatu saja. ‘Kan sepatu bisa lebih murah! Ngg… Jadi sebenarnya saya memang sudah lama sekali ingin memberi si Mamas hardisk external gitu karena saya tahu si Mamas suka sekali nonton film atau drama. Dia selalu bolak-balik warnet di Jogja untuk copy film atau drama terus ditonton di kost maklum ora duwe tipi jadi saya kepikiran buat ngasih dia hardisk biar dia bisa menyimpan dengan aman koleksi drama dan filmnya. Psstt.. Sebenarnya ada modus lain juga, sih. ‘kan saya jadi bisa nitip simpan drama favorit saya Bahahahahaha!

Balik ke Lazada. Setelah mendapatkan dompet dan hardisk yang saya inginkan, saya pun add to cart kedua benda tersebut. Setelah mendapat totalannya, saya malah sibuk cairin Telkomsel Poin saya. Lhaa? Maklum sist, saya tampang cari diskonan. Jadi, sedang ada program tukar 10 poin dari Telkomsel Poin dan kalian akan mendapat potongan sebesar Rp 50.000 untuk berbelanja di Lazada. Lumayan ‘kan lima puluh rebu juga duit, tuh. Hahaha. Untuk lebih lanjut silakan cek *700*2*5# dari handphone kalian dan tukarkan poin-nya. Oh iya, promo partner di Lazada nggak cuma dari Telkomsel, kok. Banyak juga yang lain. Silakan dilihat saja dibagian Promo Partner ya, guys. Mayan ‘kan daripada manyun. Nah, setelah saya dapat kode voucher, langsung deh saya masukkan kode voucher ke kolom yang tersedia dan voila! Total belanjaan saya dikurangi otomatis sesuai voucher yang saya dapatkan. 

ini promo partner-nya

Setelah itu saya pun melakukan konfirmasi akan melakukan pembayaran dengan cara m-banking. Saya pun diberi tahu nomor kode virtual dan selesai, deh. Oh iya, enaknya di Lazada itu sistem mulai dari mereka menerima order kita, konfirmasi pembayaran, hingga pengiriman nantinya diinformasikan dengan jelas. Real time gitu semacam ada timeline-nya. Kita akan diberi tahu estimasi pengiriman tanggal berapa barang pesanan saya akan sampai.

nih ada ‘timeline’-nya

Nah, estimasi paket saya tiba di rumah antara tanggal 5-8 Desember, nih. Nanti akan saya kabari lagi bagaimana kelanjutannya, ya! Semoga saja paket untuk Mamas sampai dengan selamat karena sejauh ini saya nggak ada masalah dengan e-commerce yang satu ini. Namun, karena saya baru kali ini pesan benda elektronik di Lazada jadi harap-harap cemas juga, deh dan semoga si Mamas nggak baca postingan saya ini

P.S.S: Ini juga bukan promosi Telkomsel. Murni karena saya memang pelanggan Telkomsel dan menukarkan poin saya untuk mendapat kode voucher πŸ˜€


UPDATE!

Akhirnya hardisk dan dompetnya tiba dalam kondisi sangat OK 👌 Hardisk sesuai gambar warnanya merah, dapat free case juga dan antivirus. Cuma saya nggak tahu gimana Mamas download antivirus-nya, tapi ada penjelasan dari seller cara download antivirus tersebut, kok. Untuk dompet so far so good. Hanya saja bahan kulit dalamnya sepertinya tipis, tapi cukup OK juga sesuai gambar. Thanks Lazada, thanks seller!



2

Pengalaman Pertama Belanja Online di JD.id

Setelah lama nggak nulis akhirnya saya kembali lagi! merasa bersalah Hahaha. Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai pengalaman pertama saya berbelanja di salah satu situs e-commerce yakni JD.id

Mungkin para pembaca sekalian sudah nggak heran lagi dengan e-commerce semacam ini karena zaman sekarang semua bisa dibeli via online. Beli baju bisa, beli TV bisa,  beli handphone bisa, bahkan beli pampers anak bisa lewat online! Gimana nggak dimanjakan dengan beragam e-commerce yang tersedia? Kita tinggal log in sebentar ke situsnya, lihat-lihat barangnya, klik add to cart (biasanya), bayar (via mobile banking atau transfer atau bahkan COD!), duduk manis menunggu barang sampai. It’s so easy! Makanya belanja online juga menjadi andalan saya saat ini.

Singkat cerita minggu lalu papa saya pergi ke Padang untuk reunian dengan teman-teman SMA-nya. Nah, pulang dari Padang si papa bawa oleh-oleh banyak sekali. Ada kripik sanjay, rendang telur, dan beberapa snack yang katanya oleh-oleh khas Padang sana, deh. Nggak cuma bawa oleh-oleh, si papa juga bawa pulang handphone rusak. Lha? Jadi rupanya si Bla*kberry milik papa yang sudah menemani sekitar 6 atau 7 tahun itu sempat terkena air hujan. Sebenarnya memang dia sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan sih sejak dua bulan lalu. Dan sejak dua bulan lalu juga saya berencana membelikan beliau handphone baru namun belum kesampaian karena saya sibuk menabung untuk nikah 😂 Dan karena nggak jadi nikah akhirnya baru sekarang kesampaian.

Papa saya bukan orang yang gadget freak. Dulu beliau malah ngajarin saya “punya handphone tuh yang penting asal bisa nelepon dan SMS karena itu memang fungsi utamanya”. Well, okay. Nggak salah memang, tapi zaman semakin berkembang dan tentunya kebutuhan akan smartphone makin bertambah. Hahaha. Apa, sih? Ya sudah intinya akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk membelikan beliau satu buah unit smartphone ASUS Zenfone Go ZB450KL. Dilihat dari specs-nya sih handphone ini sudah mendukung jaringan 4G. Ditambah lagi harganya itu lho sangat terjangkau buat saya yang kere ini HAHAHA. Nggak apa-apa deh kere asal sayang Papa. Eaa…

Back to the topic. Awalnya saya ragu sih belanja barang elektronik via online. Jujur saja ini pertama kalinya saya belanja barang elektronik via online. Biasanya saya belanja online hanya untuk kosmetika dan pakaian, itu pun belanjanya di e-commerce sebelah. Kenapa saya menjatuhkan pilihan pada JD.id? Awalnya saya tahu JD.id dari salah seorang rekan saya di kantor. Kebetulan beberapa bulan lalu dia baru beli smartphone juga di situs ini. Dia pun merekomendasikan pada saya situs e-commerce asal Tiongkok ini karena harganya yang kompetitif. Sebelum meluncur ke situs JD.id saya juga sudah survey dan membandingkan harga handphone incaran saya itu dengan e-commerce tempat saya biasa belanja. Eaa.. Kalau di e-commerce tempat saya biasa belanja sih patut diacungi jempol ya karena selain transaksinya mudah, barangnya juga cepat sampai kata siapa Bekasi itu ada di luar bumi HAH? Saya pun berkeyakinan JD.id nggak beda jauh sama e-commerce lainnya. 

Saya memesan handphone hari Kamis siang tanggal 24 November 2016, melakukan pembayaran via transfer bank pada Jumat pagi tanggal 25 November dan barang tiba di rumah saya (Bekasi bok!) pada hari Selasa siang tanggal 29 November 2016. Cukup cepat? Yah, lumayan meskipun awalnya saya berharap hari Senin barangnya sudah sampai di tangan saya. Tapi not so bad juga karena barang sudah ada di tangan saya dalam waktu nggak lebih dari seminggu. Sempat deg-degan juga sih karena ini pertama kalinya beli handphone via e-commerce dan sebelumnya banyak berita kurang enak beredar kalau barang pesanan kadang nggak sesuai dengan specs atau malah pesanannya berubah jadi kotak sabun (?) If you know that story muahahaha. 

Oh iya, belanja di JD.id caranya hampir sama seperti belanja di e-commerce sebelah, kok. Tinggal masuk ke website JD.id, pilih-pilih barang, add to cart seperti biasa, belanjaan kita ditotal secara otomatis, pilih metode pembayaran dan e-mail konfirmasi pun dikirimkan. Hanya saja saya kurang sreg dengan sistem konfirmasi pembayaran mereka yang melalui e-mail. Biasanya sepengalaman saya belanja online di e-commerce sebelah, saat melakukan pembayaran saya nggak perlu lagi mengirim bukti pembayaran ke pihak e-commerce karena biasanya saya tinggal input nomor order di atm dan status pesanan saya otomatis berganti. Sementara kemarin saat berbelanja di JD.id, saya harus mengirimkan bukti transfer ke e-mail mereka di cs@jd.id terlebih dahulu dan setelah mereka menjawab e-mail saya barulah status pesanan saya berubah. Agak ribet dan nggak simple menurut saya karena harus menunggu jawaban e-mail mereka, tapi saya kurang tahu apakah untuk sistem pembayaran yang lain alurnya sama seperti itu atau nggak.

ada charger tapi nggak ada headset ya?

By the way, barang pesanan saya datang dengan kardus berisikan semacam plastik bergelembung (?) Not bubblewrap actually, tapi isi di dalamnya masih dalam kondisi baik, sih. Dan diantar menggunakan jasa pengiriman J-Express. Saya belum pernah dengar jasa pengiriman ini sebelumnya, sih. Namun cara tracking barang pesanan kita juga mudah. Cukup masuk ke website mereka dan masukkan nomor order pesanan kita.

Nah, sekian sharing saya mengenai belanja online pertama kalinya di situs JD.id 😄 Semoga informasi ini bermanfaat, ya..