Pengalaman Pertama Berbelanja di Sale Stock

Halo! Lama banget saya nggak update blog ini, ya. Haha. Sebenarnya banyak draft dalam blog ini yang terbengkalai lantaran kesibukan dan juga kemalasan saya, jadilah baru sekarang ini saya muncul lagi. Mohon maaf lahir dan batin ya, teman-teman 😊

Saya balik dengan tema belanja online lagi. Duh, lagi-lagi kudu nulis kalau postingan saya kali ini bukan promosi atau karena saya bekerja di e-commerce yang bersangkutan, ya! Semua yang saya tulis berikut ini murni pengalaman saya sendiri, makanya mau saya bagikan pada teman-teman semua.

Singkat cerita, minggu lalu saya download aplikasi e-commerce yang sebenarnya nggak baru-baru amat. Awalnya cuma iseng karena tiap kali saya buka Facebook selalu muncul iklan dari e-commerce tersebut, sebut saja Sale Stock. Tampilan aplikasi Sale Stock yang simple dan cukup informatif bikin saya kepincut untuk mencoba berbelanja di situ. Kebetulan juga saya lagi kepengen beli sepatu. So, why don’t we give it a try to Sale Stock?

Seperti kebanyakan situs e-commerce lain, aplikasi Sale Stock cukup mudah digunakan, kok. Cuma tinggal ikuti saja petunjuk dan klik ini-itu. Kelar, deh belanjanya. Hihihi πŸ˜†

Ini tampilan awal apps Sale Stock tiap kali saya buka dari hape

Pertama-tama, tiap kali saya buka aplikasi Sale Stock dari hape, pasti yang muncul adalah halaman depan seperti gambar di atas ini. Katanya pakai aplikasi Sale Stock nggak pakai kuota, lho! Setelah itu saya cari deh sepatu di bagian kategori.

Klik ‘kategori’ yang ada di ujung kiri atas, nanti muncul begini

Setelah meng-klik ‘sepatu’ nanti akan muncul lagi kategori sepatunya. Macam-macam lho, ada heels, slip on, sneakers, wedges dan kawan-kawan lainnya. Teman-teman tinggal pilih sesuai kebutuhan saja.

Setelah puas melihat-lihat sepatu, teman-teman bisa meng-klik sepatu yang diinginkan dan lihat spesifikasinya. Biasanya lengkap ada ukuran sepatu, bahan sepatu dan juga warna yang ditawarkan. Sesuaikan saja dengan ukuran sepatu yang biasa teman-teman gunakan. Berhubung kaki saya ukuran 40 dan tapak kaki saya kurang lebih 25 cm, jadi saya wajib mencari sepatu ukuran 40 yang tapak kakinya 25 cm biar aman. Kalau sudah ketemu pilihan sepatunya dan pas spesifikasinya, teman-teman bisa melanjutkan dengan melihat stok yang ready. Biasanya nggak semua ukuran dan warna ready ya apalagi kalau sepatunya termasuk yang modelnya unyu-unyu gitu. Hahaha.

Ini contoh ukuran sepatu dan warna yang ready stock. Lengkap ya

Setelah sepatu yang teman-teman inginkan ready stock baik dalam ukuran dan juga warna, tinggal klik saja warna dan ukuran yang diinginkan. Selanjutnya teman-teman diminta untuk mengisi data diri seperti nama, alamat pengiriman, nomor telepon, alamat email dan lanjut ke pilihan mau bayar pakai apa. Karena saya kebetulan pakai m-banking BCA jadi saya bayarnya pakai sistem transfer via virtual account deh. 

Dicek dulu keranjang belanjaannya ya, sist!
Lanjut isi data diri. Jangan sampai salah ya biar nggak nyasar paketnya!
Pilih metode pembayaran

Setelah bayar, nanti teman-teman akan mendapat konfirmasi lewat email dan juga SMS. Gimana? Ternyata gampang juga ya belanja lewat aplikasi Sale Stock. Oh ya, pengalaman saya kemarin sih barang datang cukup cepat, tapi karena saya pesan sebelum lebaran, jadinya barang saya baru dikirim setelah lebaran. Tapi langsung sampai rumah dua hari kemudian. 

Satu malam sebelum pesanan saya sampai, saya sempat dapat telepon dari pihak Lion Parcel yang ternyata menjadi kurir dalam pengiriman barang saya ini. Mereka menanyakan ancer-ancer ke rumah saya dan bilang besok barangnya akan dikirimkan πŸ˜… Dan benar saja besok paginya barang sudah saya terima. FYI, pesanan saya sampai di rumah hari Sabtu pagi. Packing barangnya rapi dan yang terpenting sepatu yang saya pesan cocok dan pas dengan ukuran kaki saya πŸ˜†

Sekian cerita saya mengenai pengalaman pertama berbelanja di Sale Stock. Jadi pengen coba belanja barang lain di Sale Stock, nih. Hahaha πŸ˜‚ Semoga bisa bermanfaat buat teman-teman semua, ya!

Salam,

🐳🐳🐳

Iklan
Pengalaman Pertama Berbelanja di Sale Stock

Etika Utang-Berutang

Sebenarnya ada nggak sih kata utang-berutang dalam KBBI? *serius nanya*

Haha. Anyway, hari ini saya mau bahas masalah etika mengutang. Iya. Utang. Sebenarnya ini mau curhat aja, sih πŸ˜‚

Jadi ceritanya begini, akhir bulan Maret kemarin saya dihubungi oleh salah seorang teman lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget lewat inbox di Instagram saya. Fyi, dulu waktu saya masih kecil sekitar 20an tahun lalu, doi ini teman main saya gitu. Tapi beberapa tahun kemudian dia pindah ke suatu tempat dan saya lost contact sama sekali dengan doi. Singkat cerita, akhirnya kami bertemu kembali lewat dunia maya beberapa tahun lalu. Awalnya lewat Facebook. Kemudian merambahlah ke Instagram. Saya nggak ingat siapa duluan yang add dan follow. Hanya saja sejak pertama kali berteman di Facebook, saya dan dia nggak pernah japri-japrian. Intinya cuma sekadar kami teman lama yang akhirnya bertemu di dunia maya.

Hingga akhir Maret lalu, doi mengirim pesan lewat Instagram pada saya. Basa-basi nanya kabar dan juga nomor handphone saya. Saya yang saat itu nggak ada prasangka apa-apa dengan senang hati membalas pesan si doi, dong. Hingga akhirnya dia mengirim pesan whatsapp ke saya dan nanya “Kamu lagi ada uang nggak?” Jder! Saya langsung feeling nggak enak, nih. Trus dia mulai curhat kalau dia lagi kena masalah nunggak kartu kredit gitu dan suaminya gajian tiap tiga bulan sekali dan dia lagi hamil gitu bla bla bla. Rupanya si doi ini mau pinjam uang yang menurut saya jumlahnya nggak sedikit untuk bayar utang kartu kreditnya.

Source: Google

Saya yang waktu itu memang nggak punya uang akhirnya bilang ke doi kalau saya nggak bisa bantu. Saya jelasin kalau saya juga punya tanggungan bla bla bla. Lagian seandainya saya punya uang sebanyak utang kartu kredit dia pun saya nggak mau minjemin doi uang, sih. Lha yang pakai kartu kreditnya dia, kenapa harus saya yang bayar? Begitu logika saya saat itu. Saya sendiri aja nggak punya kartu kredit! πŸ˜₯
Saya berhasil menolak doi. Tapi kemudian lusanya doi kirim whatsapp lagi ke saya. Kali ini pinjam 150 rebu saja! Alasannya dia nggak ada ongkos untuk ke bank yang mengeluarkan kartu kreditnya itu. Katanya sih dia mau ke bank itu buat minta keringanan. Sebagai teman yang bodoh baik, akhirnya saya mengirimkan uang padanya. Berhenti sampai di situ? Rupanya tidak, sodara-sodara! Minggu depannya dia whatsapp saya lagi mau pinjam uang 150 rebu lagi buat ongkos! Kebetulan saat itu hari Minggu dan jadwal saya di Minggu siang adalah tidur-tidur tjakep, jadi saya baru baca whatsapp doi sore hari dan akhirnya saya nggak balas, deh. 

Sejak saat itu doi nggak pernah whatsapp saya lagi. Sampai akhirnya hari ini yang mana dua bulan kemudian dari sejak dia whatsapp saya untuk pertama kalinya, saya menagih utang. Ah, biarin deh dibilang “Pelit amat sih cuma utang segitu doang aja pake ditagih-tagih”. Biar kata cuma 150 rebu juga duit, tau. Bisa buat ongkos saya ke kantor tuh seminggu 😰 

Sebenarnya saya nggak mempermasalahkan jumlah uangnya sih meskipun saat ini saya bokek berat tapi mbok ya berutang juga pakai etika πŸ˜• Maksud saya, doi ‘kan sudah lama ya nggak japri saya trus ujug-ujug japri tapi cuma buat ngutang yang nominalnya jutaan, bro! Padahal waktu dia nikahan saja saya nggak di message sama dia, waktu ulang tahun saja nggak pernah diucapin juga padahal ‘kan temenan di dunia maya. Itu salah satu faktor yang bikin saya agak ilfil, sih. Selain itu, setelah tragedi saya-bobok-siang-tjakep-di-hari-Minggu dan telat baca pesan dari dia yang mau ngutang lagi, doi nggak kontak-kontak saya lagi sejak saat itu. Duh, padahal waktu mau ngutang itu doi whatsapp saya ngucapin selamat hari Minggu segala, nanya saya kerja di mana dan basa-basi lainnya.

Source: Google

Terus, inti postingan ini apa? Yah. Saya cuma mau curhat aja! Haha. Nggak, deh. Saya cuma mau berbagi kalau mau ngutang tuh tolong perhatikan dulu pada siapa kita akan ngutang. Jangan tiba-tiba kontak teman sekelas waktu TK dulu terus langsung ngutang 20 juta buat kawin misalnya. Euh! πŸ˜₯ Bukannya diutangin nanti malah diajak kawin, lho! *Eh πŸ™Š Selain itu, salah satu tips aman dari utang adalah nggak usah pakai kartu kredit kartu kreditan lah kalau memang nggak bisa mengatur cashflow dengan baik. Lha gimana bisa lunas kalau mau bayar tunggakan kartu kredit saja malah ngutang ke orang lain. Kalau memang mau pakai kartu kredit pastikan kamu punya cashflow yang baik. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, gaes! Masa’ kamu yang gesek kartunya aku yang disuruh bayarin dulu? πŸ˜₯ Terakhir, waspada deh kalau tiba-tiba ada teman lamaaaaaaaa kamu yang mengontak kamu lewat medsos padahal sebelumnya nggak pernah japri kamu. Bisa jadi temanmu mau ngutang atau mau ngasih undangan nikah dia sama mantan gebetan kamu πŸ˜‚
Salam anak baik!

Etika Utang-Berutang

Cara Mudah Top Up Go-PayΒ 

Ojek online tentunya sudah nggak asing lagi bagi pengguna transportasi massa zaman sekarang. Saya pun salah seorang pengguna aplikasi ojek online. Biasanya sih saya naik ojek online kalau sedang malas naik motor sendirian atau sedang sakit, so mau nggak mau saya pesan jasa ojek yang satu ini, deh.

Disclaimer: Ini murni pengalaman saya sendiri. Saya nggak bermaksud promosi. Hanya memberi sedikit informasi, siapa tahu berguna bagi pembaca sekalian 😄

Di smartphone saya, saya menyimpan dua aplikasi ojek online. Ada Go-Jek dan Grab. Dua-duanya saya gunakan bergantian dan memang saya sengaja nggak menghapus salah satunya karena pasti ada kalanya saya kesulitan mendapatkan driver dari aplikasi satu dan saya pun memutuskan menggunakan aplikasi kedua. Tergantung ocassion-nya juga. Kalau lagi butuh mobil saya biasa pakai Grab Car dan kalau mau antar makanan saya terbiasa pakai Go-Food. 

Sebenarnya banyak orang sudah tahu sih cara menggunakan ojek online ini. Simple dan nggak perlu nunggu lama. Tarif yang ditawarkan pun kompetitif. Apalagi sekarang kalau naik Go-Jek dan bayar pakai Go-Pay, cukup bayar setengahnya saja alias diskon 50% β™‘ Correct me if I am wrong karena saya baru coba pakai Go-Pay ini kemarin! Hahaha 😂

Jadi, sejak Selasa kemarin saya kurang enak badan. Saya hampir pingsan di dalam bus TransJakarta waktu mau berangkat kerja. Saat itu saya langsung memutuskan untuk turun dari bus dan istirahat sebentar di shelter TransJakarta Cawang BNN. Jebule ketemu teman kantor saya dan akhirnya dibantu dia menuju kantor dengan selamat *skip* Nah, di kantor bos saya yang paling baik sejagad raya semesta itu menyuruh saya balik saja ke rumah alias kerja setengah hari. Saya pun menolak dan meyakinkan beliau kalau saya nggak apa-apa. Akhirnya beliau menyarankan saya untuk pulang naik taksi. Karena argo taksi yang cukup mahal dan pertimbangan motor saya masih ada di terminal Pinang Ranti, saya pun memutuskan untuk naik ojek online saja ke Cawang UKI dan melanjutkan perjalanan ke Pinang Ranti dengan TransJakarta. Lha? Nanggung amat, mbak? Iya! Saya tahu nanggung amat, tapi daripada saya naik motor sampai Pinang Ranti dan kena macet di Kramat Jati mending saya berdiri sebentar di bus. Lagipula kalau dari Cawang UKI ke Pinang Ranti cepat, kok. ‘Kan tinggal masuk tol dan wuuush sampai *skip lagi*

Akhirnya sejak Selasa, Rabu dan Jumat saya pulang kerja naik ojek online. Hari pertama naik Grab Bike kena charge Rp 23.000, hari kedua naik Grab Bike lagi masih kena harga yang sama. Nah, hari Jumat kemarin nih kebetulan dengar berita driver Grab pada demo. Terus kena high fare juga wakakaka nggak mau rugi, bok! Akhirnya saya coba naik Go-Jek deh. Tapi sebelum coba naik Go-Jek, saya sok-sok coba top up Go-Pay gitu biar dapat diskon. Dan karena itu pertama kalinya saya pakai Go-Pay, agak bingung juga sih awalnya cara ngisi saldonya gimana atau bayarnya pakai apa. Tapi ternyata gampang. Hahaha!

Pertama-tama saya masuk ke aplikasi Go-Jek dulu. Terus di bagian home depan nanti ada tulisan Go-Pay bla bla bla Rupiah. 

Nah, kemarin punya saya masih Rp 0;. Akhirnya saya klik top up dan masuk ke menu selanjutnya. 

Di menu selanjutnya akan dijabarin mau top up menggunakan cara apa dan dari bank mana. Fyi, bisa top up juga lewat driver, lho. Karena saya menggunakan Mandiri Mobile Banking, akhirnya saya pun meng-klik logo bank Mandiri. Selanjutnya ada tiga macam pilihan pembayaran bank Mandiri. Mulai dari lewat ATM, m-banking, sms banking

Selanjutnya tinggal ikuti instruksi yang tertulis. Masukkan nomor handphone kita yang terdaftar pada aplikasi Go-Jek dan selesai. Kini saldo Go-Pay bertambah tinggal digunakan saja 😎 Cara menggunakannya juga mudah. Saat melakukan pesanan tinggal tandai cara pembayaran menggunakan Go-Pay dan saldo kita pun akan berkurang secara otomatis. 

Fufufu.. Ternyata cepat dan gampang ya cara top up saldo Go-Pay. Lumayan juga ‘kan dapat diskon dan nggak repot ngeluarin uang. Di akhir nanti juga terdapat pilihan mau memberikan tips pada driver atau nggak, kok. Karena saya sudah memberikan tips dengan uang cash maka saya melewatkan notif tersebut dan cukup memberi bintang pada si driver. Ehehehe.

Saya baru coba pakai Go-Pay nih belum coba yang GrabPay. Nanti deh kapan-kapan saya share juga, atau mungkin para pembaca mau share pengalamannya menggunakan aplikasi ojek online terutama untuk metode pembayaran cashless semacam ini? Monggo…

Thanks for reading! Happy weekend 😄

Cara Mudah Top Up Go-PayΒ 

Lazada: Salah Satu Pilihan Mudah Belanja Online

Another e-commerce review. But this is not a-first-impression-post like my previous post karena bisa dibilang saya sering berbelanja di e-commerce yang satu ini. Hahahak!

P.S.: Ini bukan postingan berbayar and I am not their employee. Saya hanya ingin share saja rasanya belanja di Lazada 😄Siapa tahu bisa memberi informasi bagi para pembaca yang ingin belanja online. 😄

Sedikit flashback, awalnya saya tahu Lazada dari si Mamas. Dia sudah beberapa kali beliin saya barang di situ. Mulai dari boneka segede gambreng sampai mini travel size produk kecantikan yang ternama itu, sebut saja SK ** dibelikan Mamas lewat Lazada. So, saya sudah nggak asing lagi dengan e-commerce yang satu ini. Barang pertama yang saya beli di Lazada apa, ya? Umm.. Kalau nggak salah ingat sih mini travel size produk kosmetika tadi. Waktu itu kebetulan yang dari Mamas habis, so saya langsung pesan lagi ke Lazada.

banyak yang jual hardisk yeay!
biasakan baca review ya

Oh ya, di Lazada banyak seller-nya, kok. Tinggal search mau barang apa atau merk apa, terus nanti muncul deh pilihannya. Mulai dari yang bintangnya banyak sampai nggak ada bintangnya alias belum ada review, mulai dari yang harganya normal sampai yang miring-miring, pokoknya beragam, deh. Pintar-pintarnya kita saja sebagai pembeli untuk teliti dan menentukan. Langkah belanja di Lazada pun gampang. Dan saya sudah terbiasa mengikuti langkah ini karena nggak ribet. Saya punya apps Lazada di smartphone saya dan biasanya saya log in dari situ. Setelah log in (pastikan kamu buat akun di Lazada dulu) tinggal cari barang yang ingin dibeli, deh. Kebetulan kemarin saya habis beliin Mamas dompet dan hardisk eksternal buat kado ulang tahun Mamas Hahaha. Kalau dompet memang si Mamas yang minta sendiri. Dompet dia sudah buluk terus robek-robek, jadi boleh lah ya saya kasih dompet. Sebenarnya dia lagi butuh sepatu kerja juga, sih. Mungkin ada yang berminat endorse si Mamas dengan memberikan sepatu kerja? Nanti saya tulis di blog saya ini, deh *uhuk* *macak professional blogger* Mungkin banyak yang bertanya kenapa saya kasih hardisk bukan sepatu saja. ‘Kan sepatu bisa lebih murah! Ngg… Jadi sebenarnya saya memang sudah lama sekali ingin memberi si Mamas hardisk external gitu karena saya tahu si Mamas suka sekali nonton film atau drama. Dia selalu bolak-balik warnet di Jogja untuk copy film atau drama terus ditonton di kost maklum ora duwe tipi jadi saya kepikiran buat ngasih dia hardisk biar dia bisa menyimpan dengan aman koleksi drama dan filmnya. Psstt.. Sebenarnya ada modus lain juga, sih. ‘kan saya jadi bisa nitip simpan drama favorit saya Bahahahahaha!

Balik ke Lazada. Setelah mendapatkan dompet dan hardisk yang saya inginkan, saya pun add to cart kedua benda tersebut. Setelah mendapat totalannya, saya malah sibuk cairin Telkomsel Poin saya. Lhaa? Maklum sist, saya tampang cari diskonan. Jadi, sedang ada program tukar 10 poin dari Telkomsel Poin dan kalian akan mendapat potongan sebesar Rp 50.000 untuk berbelanja di Lazada. Lumayan ‘kan lima puluh rebu juga duit, tuh. Hahaha. Untuk lebih lanjut silakan cek *700*2*5# dari handphone kalian dan tukarkan poin-nya. Oh iya, promo partner di Lazada nggak cuma dari Telkomsel, kok. Banyak juga yang lain. Silakan dilihat saja dibagian Promo Partner ya, guys. Mayan ‘kan daripada manyun. Nah, setelah saya dapat kode voucher, langsung deh saya masukkan kode voucher ke kolom yang tersedia dan voila! Total belanjaan saya dikurangi otomatis sesuai voucher yang saya dapatkan. 

ini promo partner-nya

Setelah itu saya pun melakukan konfirmasi akan melakukan pembayaran dengan cara m-banking. Saya pun diberi tahu nomor kode virtual dan selesai, deh. Oh iya, enaknya di Lazada itu sistem mulai dari mereka menerima order kita, konfirmasi pembayaran, hingga pengiriman nantinya diinformasikan dengan jelas. Real time gitu semacam ada timeline-nya. Kita akan diberi tahu estimasi pengiriman tanggal berapa barang pesanan saya akan sampai.

nih ada ‘timeline’-nya

Nah, estimasi paket saya tiba di rumah antara tanggal 5-8 Desember, nih. Nanti akan saya kabari lagi bagaimana kelanjutannya, ya! Semoga saja paket untuk Mamas sampai dengan selamat karena sejauh ini saya nggak ada masalah dengan e-commerce yang satu ini. Namun, karena saya baru kali ini pesan benda elektronik di Lazada jadi harap-harap cemas juga, deh dan semoga si Mamas nggak baca postingan saya ini

P.S.S: Ini juga bukan promosi Telkomsel. Murni karena saya memang pelanggan Telkomsel dan menukarkan poin saya untuk mendapat kode voucher πŸ˜€


UPDATE!

Akhirnya hardisk dan dompetnya tiba dalam kondisi sangat OK 👌 Hardisk sesuai gambar warnanya merah, dapat free case juga dan antivirus. Cuma saya nggak tahu gimana Mamas download antivirus-nya, tapi ada penjelasan dari seller cara download antivirus tersebut, kok. Untuk dompet so far so good. Hanya saja bahan kulit dalamnya sepertinya tipis, tapi cukup OK juga sesuai gambar. Thanks Lazada, thanks seller!



Lazada: Salah Satu Pilihan Mudah Belanja Online

Pentingkah Asuransi Kesehatan?

Sebagai seorang karyawan swasta, kantor tempat saya bekerja menjamin tiap karyawannya (baik karyawan kontrak maupun karyawan tetap) dalam urusan penjaminan kesehatan. Karena di Indonesia sedang digalakkan program BPJS Kesehatan oleh pemerintah, maka kantor tempat saya bekerja pun menjamin kesehatan kami melalui program ini.

Sebenarnya sejak pertama kali saya bekerja (dulu saya sempat kerja di salah satu perusahaan retail ternama uhuk) saya memang sudah didaftarkan sebagai salah satu peserta BPJS Kesehatan. Jadi, saat saya pindah ke perusahaan yang sekarang saya hanya tinggal meneruskan kepesertaan saya tersebut. Sejujurnya saya kurang paham sih berapa besaran premi yang ditanggung oleh kantor dan juga oleh karyawan. Yang saya tahu tiap bulan dalam slip gaji saya pasti tercantum sejumlah total yang harus dipotong untuk pembayaran BPJS Kesehatan ini dan Jamsostek.

image taken from google

Saya sendiri sebenarnya sudah beberapa kali (kurang dari 10 kali atau malah kurang dari 5 kali, sih) berobat menggunakan kartu BPJS Kesehatan. Saya tipe orang yang malas sekali berobat ke dokter *eh. Serius, deh. Kalau nggak sampai harus masuk IGD, saya malas untuk berobat ke dokter. Bukannya apa-apa, hanya saja kadang saya merasa untuk penyakit yang ringan tubuh saya ini masih kuat lah diajak minum obat warung dulu. Hahaha. Omong-omong soal IGD saya dulu pernah lho waktu di Jogja sakit demam, awalnya saya kira demam biasa. Badan saya lemas, demam tinggi, nggak bisa ngapa-ngapain, deh. Akhirnya dalam kondisi setengah sadar saya dibawa ke IGD RS Sardjito oleh mbak kos saya dan di sana darah saya diambil untuk dicek, just in case saya terkena DBD atau penyakit lainnya. Oh iya, sampai umur 26 tahun ini saya baru sekali dirawat di rumah sakit. Itu pun duluuu, waktu masih SD, karena kena DBD. 
Kembali ke IGD. Dulu itu saya dapat magical card dari Papa saya yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan batu baterai terbesar di Indonesia. Eaa.. magical card? Maksud saya kartu asuransi. HAHAHA. Jadi dulu sewaktu usia saya masih unyu-unyu  kayak kunyuk kesehatan saya terjamin melalui perusahaan tempat Papa saya bekerja. Kami diikutsertakan dalam asuransi kesehatan *piiip* dan mendapat magical card tersebut. Saya pun dulu menggunakan kartu sakti tersebut untuk berobat. Ngahahaha. Bahkan saya tambal dan cabut gigi di Sardjito juga pakai itu, deh kalau nggak salah ingat. Pokoknya kalau ada kartu sakti itu saya bisa berobat di Jogja meskipun saya jauh dari orang tua saya.

Nah, fungsi si BPJS Kesehatan ini juga hampir mirip dengan si magical card yang dulu pernah saya miliki itu, namun sepertinya kok banyak yang bilang pakai BPJS itu ribet, ya? Saya pernah sih ke dokter pakai BPJS. Waktu itu saya sakit punggung 😂 Terus karena nggak tahan akhirnya saya ke klinik faskes pertama yang tertulis di kartu BPJS saya. Prosesnya waktu itu cepat dan mudah. Saya datang ke klinik, daftar sambil menyerahkan kartu BPJS dan KTP, tunggu antrean, deh. Kalau kliniknya lagi sepi ya bisa cepat dipanggil, tapi kalau lagi ramai biasanya lama juga antreannya. Untuk obatnya sendiri karena saya menggunakan BPJS jadi dapat yang generik. Saya nggak bilang obat generik itu jelek, ya.. Hanya saja menurut saya *entah ini sugesti atau bukan* obat generik bekerja jauh lebih lambat dibanding obat paten. Hahaha. Sembuh, sih, tapi kok agak lama 😂

image taken from google

Anyway sebenarnya saya nulis topik ini karena beberapa hari lalu saya dapat telepon dari salah seorang telemarketing AXA Mandiri. Doi menawarkan saya asuransi kesehatan dari AXA Mandiri. Kebetulan saya memang salah satu nasabah bank Mandiri. Sebenarnya sempat heran juga sih, mereka terintegrasi gitu ya sampai nasabah bank ditelponin terus diajak join asuransi begitu? ;):D Preminya kecil, sih,  mungkin karena tabungan saya nggak banyak HAHAHAHA hanya saja saya merasa antara butuh dan nggak butuh gitu. Saya mikirnya saya sudah punya kartu BPJS, dan BPJS menanggung biaya kesehatan saya kalau sakit. Namun, banyak juga yang bilang kalau terpaksanya harus dirawat inap sangat sulit menggunakan BPJS. Beragam cerita yang saya dengar. Mulai dari kamar inap yang nggak tersedia di rumah sakit karena pasien menggunakan BPJS hingga sulit mendapatkan surat rujukan ke rumah sakit. Well, kalau soal ini saya nggak begitu paham karena saya belum pernah mengalami langsung. Cuma ‘kan jadi deg-degan juga semisal saya sakit, terpaksa harus dirawat, namun kesulitan karena “sistem”nya BPJS yang rumit tadi. Saya pun mulai kepikiran cadangan asuransi kesehatan, deh.
Mungkin ada yang lebih ahli soal asuransi kesehatan seperti ini? Monggo dishare pengalamannya!

Pentingkah Asuransi Kesehatan?

Pengalaman Pertama Belanja Online di JD.id

Setelah lama nggak nulis akhirnya saya kembali lagi! merasa bersalah Hahaha. Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai pengalaman pertama saya berbelanja di salah satu situs e-commerce yakni JD.id

Mungkin para pembaca sekalian sudah nggak heran lagi dengan e-commerce semacam ini karena zaman sekarang semua bisa dibeli via online. Beli baju bisa, beli TV bisa,  beli handphone bisa, bahkan beli pampers anak bisa lewat online! Gimana nggak dimanjakan dengan beragam e-commerce yang tersedia? Kita tinggal log in sebentar ke situsnya, lihat-lihat barangnya, klik add to cart (biasanya), bayar (via mobile banking atau transfer atau bahkan COD!), duduk manis menunggu barang sampai. It’s so easy! Makanya belanja online juga menjadi andalan saya saat ini.

Singkat cerita minggu lalu papa saya pergi ke Padang untuk reunian dengan teman-teman SMA-nya. Nah, pulang dari Padang si papa bawa oleh-oleh banyak sekali. Ada kripik sanjay, rendang telur, dan beberapa snack yang katanya oleh-oleh khas Padang sana, deh. Nggak cuma bawa oleh-oleh, si papa juga bawa pulang handphone rusak. Lha? Jadi rupanya si Bla*kberry milik papa yang sudah menemani sekitar 6 atau 7 tahun itu sempat terkena air hujan. Sebenarnya memang dia sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan sih sejak dua bulan lalu. Dan sejak dua bulan lalu juga saya berencana membelikan beliau handphone baru namun belum kesampaian karena saya sibuk menabung untuk nikah πŸ˜‚ Dan karena nggak jadi nikah akhirnya baru sekarang kesampaian.

Papa saya bukan orang yang gadget freak. Dulu beliau malah ngajarin saya “punya handphone tuh yang penting asal bisa nelepon dan SMS karena itu memang fungsi utamanya”. Well, okay. Nggak salah memang, tapi zaman semakin berkembang dan tentunya kebutuhan akan smartphone makin bertambah. Hahaha. Apa, sih? Ya sudah intinya akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk membelikan beliau satu buah unit smartphone ASUS Zenfone Go ZB450KL. Dilihat dari specs-nya sih handphone ini sudah mendukung jaringan 4G. Ditambah lagi harganya itu lho sangat terjangkau buat saya yang kere ini HAHAHA. Nggak apa-apa deh kere asal sayang Papa. Eaa…

Back to the topic. Awalnya saya ragu sih belanja barang elektronik via online. Jujur saja ini pertama kalinya saya belanja barang elektronik via online. Biasanya saya belanja online hanya untuk kosmetika dan pakaian, itu pun belanjanya di e-commerce sebelah. Kenapa saya menjatuhkan pilihan pada JD.id? Awalnya saya tahu JD.id dari salah seorang rekan saya di kantor. Kebetulan beberapa bulan lalu dia baru beli smartphone juga di situs ini. Dia pun merekomendasikan pada saya situs e-commerce asal Tiongkok ini karena harganya yang kompetitif. Sebelum meluncur ke situs JD.id saya juga sudah survey dan membandingkan harga handphone incaran saya itu dengan e-commerce tempat saya biasa belanja. Eaa.. Kalau di e-commerce tempat saya biasa belanja sih patut diacungi jempol ya karena selain transaksinya mudah, barangnya juga cepat sampai kata siapa Bekasi itu ada di luar bumi HAH? Saya pun berkeyakinan JD.id nggak beda jauh sama e-commerce lainnya. 

Saya memesan handphone hari Kamis siang tanggal 24 November 2016, melakukan pembayaran via transfer bank pada Jumat pagi tanggal 25 November dan barang tiba di rumah saya (Bekasi bok!) pada hari Selasa siang tanggal 29 November 2016. Cukup cepat? Yah, lumayan meskipun awalnya saya berharap hari Senin barangnya sudah sampai di tangan saya. Tapi not so bad juga karena barang sudah ada di tangan saya dalam waktu nggak lebih dari seminggu. Sempat deg-degan juga sih karena ini pertama kalinya beli handphone via e-commerce dan sebelumnya banyak berita kurang enak beredar kalau barang pesanan kadang nggak sesuai dengan specs atau malah pesanannya berubah jadi kotak sabun (?) If you know that story muahahaha. 

Oh iya, belanja di JD.id caranya hampir sama seperti belanja di e-commerce sebelah, kok. Tinggal masuk ke website JD.id, pilih-pilih barang, add to cart seperti biasa, belanjaan kita ditotal secara otomatis, pilih metode pembayaran dan e-mail konfirmasi pun dikirimkan. Hanya saja saya kurang sreg dengan sistem konfirmasi pembayaran mereka yang melalui e-mail. Biasanya sepengalaman saya belanja online di e-commerce sebelah, saat melakukan pembayaran saya nggak perlu lagi mengirim bukti pembayaran ke pihak e-commerce karena biasanya saya tinggal input nomor order di atm dan status pesanan saya otomatis berganti. Sementara kemarin saat berbelanja di JD.id, saya harus mengirimkan bukti transfer ke e-mail mereka di cs@jd.id terlebih dahulu dan setelah mereka menjawab e-mail saya barulah status pesanan saya berubah. Agak ribet dan nggak simple menurut saya karena harus menunggu jawaban e-mail mereka, tapi saya kurang tahu apakah untuk sistem pembayaran yang lain alurnya sama seperti itu atau nggak.

ada charger tapi nggak ada headset ya?

By the way, barang pesanan saya datang dengan kardus berisikan semacam plastik bergelembung (?) Not bubblewrap actually, tapi isi di dalamnya masih dalam kondisi baik, sih. Dan diantar menggunakan jasa pengiriman J-Express. Saya belum pernah dengar jasa pengiriman ini sebelumnya, sih. Namun cara tracking barang pesanan kita juga mudah. Cukup masuk ke website mereka dan masukkan nomor order pesanan kita.

Nah, sekian sharing saya mengenai belanja online pertama kalinya di situs JD.id πŸ˜„ Semoga informasi ini bermanfaat, ya..

Pengalaman Pertama Belanja Online di JD.id

Ada Cinta Dalam Kotak BekalkuΒ 

Ada cinta dalam kotak bekalku pagi ini. Bekal sederhana namun terasa istimewa kala yang tercinta membuatkannya. Kupanggil dia ‘bapak’, lelaki pertama yang membuatku merasa aman dan percaya bahwa masih ada laki-laki baik di muka bumi ini.

Bapakku sudah pensiun. Usianya memang baru setengah abad lebih sedikit, namun karena beliau seorang pegawai swasta biasa alhasil beliau harus pensiun di usianya. Sudah dua tahun masa pensiun beliau lalui, namun bukan berarti beliau sibuk ongkang-ongkang kaki di rumah. Jenuh katanya, beliau pun memutuskan untuk kembali cari ‘kesibukan’.

Pagi hari tadi aku bangun seperti biasa. Jam setengah lima kurang sepuluh menit. Seperti biasa pula di dapur sudah terdengar suara pisau beradu, kompor menyala dan nasi yang mulai dipanaskan. Kulihat di dapur ada bapak di sana. Dia yang menyiapkan bekalku hari ini rupanya. 

Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Sejak dulu beliau lah yang menjaga aku dan adik-adikku di rumah, mengajar kami, menemani kami membuat PR dan lain-lainnya. Pagi tadi ibuku masih terlelap di kamar. Beliau sakit. Kata bapakku beliau tidak bisa tidur semalaman karena alerginya kumat. Akhirnya pagi tadi bapak lah yang menggantikan tugas ibu untuk menyiapkan bekal bagiku.

Bekalnya sederhana. Kornet dan nasi putih. Dimasukkan dalam kotak bekal berwarna merah muda yang selalu kubawa-bawa. Dibungkus rapi dalam plastik dan dimasukkan dalam tas yang biasa kubawa untuk bekerja. 

Kotak bekalku mungkin sederhana. Namun pagi ini kusadari ada beragam cinta yang tertata, bukan sekadar kornet dan nasi semata tapi juga untaian harapan serta doa. Doa agar aku bisa melewati hariku dengan kuat dan lebih tegar dari sebelumnya. Doa agar pekerjaanku bisa membawa berkat bagi keluarga dan orang lain. Doa agar aku bisa terus berkarya walau susah payah.

Ah, mataku mulai berkaca-kaca jika mengingat bekal yang tiap hari disiapkan bapak ibuku. Ada cinta dalam kotak bekalku…

Ada Cinta Dalam Kotak BekalkuΒ