2

Etika Utang-Berutang

Sebenarnya ada nggak sih kata utang-berutang dalam KBBI? *serius nanya*

Haha. Anyway, hari ini saya mau bahas masalah etika mengutang. Iya. Utang. Sebenarnya ini mau curhat aja, sih 😂

Jadi ceritanya begini, akhir bulan Maret kemarin saya dihubungi oleh salah seorang teman lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget lewat inbox di Instagram saya. Fyi, dulu waktu saya masih kecil sekitar 20an tahun lalu, doi ini teman main saya gitu. Tapi beberapa tahun kemudian dia pindah ke suatu tempat dan saya lost contact sama sekali dengan doi. Singkat cerita, akhirnya kami bertemu kembali lewat dunia maya beberapa tahun lalu. Awalnya lewat Facebook. Kemudian merambahlah ke Instagram. Saya nggak ingat siapa duluan yang add dan follow. Hanya saja sejak pertama kali berteman di Facebook, saya dan dia nggak pernah japri-japrian. Intinya cuma sekadar kami teman lama yang akhirnya bertemu di dunia maya.

Hingga akhir Maret lalu, doi mengirim pesan lewat Instagram pada saya. Basa-basi nanya kabar dan juga nomor handphone saya. Saya yang saat itu nggak ada prasangka apa-apa dengan senang hati membalas pesan si doi, dong. Hingga akhirnya dia mengirim pesan whatsapp ke saya dan nanya “Kamu lagi ada uang nggak?” Jder! Saya langsung feeling nggak enak, nih. Trus dia mulai curhat kalau dia lagi kena masalah nunggak kartu kredit gitu dan suaminya gajian tiap tiga bulan sekali dan dia lagi hamil gitu bla bla bla. Rupanya si doi ini mau pinjam uang yang menurut saya jumlahnya nggak sedikit untuk bayar utang kartu kreditnya.

Source: Google

Saya yang waktu itu memang nggak punya uang akhirnya bilang ke doi kalau saya nggak bisa bantu. Saya jelasin kalau saya juga punya tanggungan bla bla bla. Lagian seandainya saya punya uang sebanyak utang kartu kredit dia pun saya nggak mau minjemin doi uang, sih. Lha yang pakai kartu kreditnya dia, kenapa harus saya yang bayar? Begitu logika saya saat itu. Saya sendiri aja nggak punya kartu kredit! 😥
Saya berhasil menolak doi. Tapi kemudian lusanya doi kirim whatsapp lagi ke saya. Kali ini pinjam 150 rebu saja! Alasannya dia nggak ada ongkos untuk ke bank yang mengeluarkan kartu kreditnya itu. Katanya sih dia mau ke bank itu buat minta keringanan. Sebagai teman yang bodoh baik, akhirnya saya mengirimkan uang padanya. Berhenti sampai di situ? Rupanya tidak, sodara-sodara! Minggu depannya dia whatsapp saya lagi mau pinjam uang 150 rebu lagi buat ongkos! Kebetulan saat itu hari Minggu dan jadwal saya di Minggu siang adalah tidur-tidur tjakep, jadi saya baru baca whatsapp doi sore hari dan akhirnya saya nggak balas, deh. 

Sejak saat itu doi nggak pernah whatsapp saya lagi. Sampai akhirnya hari ini yang mana dua bulan kemudian dari sejak dia whatsapp saya untuk pertama kalinya, saya menagih utang. Ah, biarin deh dibilang “Pelit amat sih cuma utang segitu doang aja pake ditagih-tagih”. Biar kata cuma 150 rebu juga duit, tau. Bisa buat ongkos saya ke kantor tuh seminggu 😰 

Sebenarnya saya nggak mempermasalahkan jumlah uangnya sih meskipun saat ini saya bokek berat tapi mbok ya berutang juga pakai etika 😕 Maksud saya, doi ‘kan sudah lama ya nggak japri saya trus ujug-ujug japri tapi cuma buat ngutang yang nominalnya jutaan, bro! Padahal waktu dia nikahan saja saya nggak di message sama dia, waktu ulang tahun saja nggak pernah diucapin juga padahal ‘kan temenan di dunia maya. Itu salah satu faktor yang bikin saya agak ilfil, sih. Selain itu, setelah tragedi saya-bobok-siang-tjakep-di-hari-Minggu dan telat baca pesan dari dia yang mau ngutang lagi, doi nggak kontak-kontak saya lagi sejak saat itu. Duh, padahal waktu mau ngutang itu doi whatsapp saya ngucapin selamat hari Minggu segala, nanya saya kerja di mana dan basa-basi lainnya.

Source: Google

Terus, inti postingan ini apa? Yah. Saya cuma mau curhat aja! Haha. Nggak, deh. Saya cuma mau berbagi kalau mau ngutang tuh tolong perhatikan dulu pada siapa kita akan ngutang. Jangan tiba-tiba kontak teman sekelas waktu TK dulu terus langsung ngutang 20 juta buat kawin misalnya. Euh! 😥 Bukannya diutangin nanti malah diajak kawin, lho! *Eh 🙊 Selain itu, salah satu tips aman dari utang adalah nggak usah pakai kartu kredit kartu kreditan lah kalau memang nggak bisa mengatur cashflow dengan baik. Lha gimana bisa lunas kalau mau bayar tunggakan kartu kredit saja malah ngutang ke orang lain. Kalau memang mau pakai kartu kredit pastikan kamu punya cashflow yang baik. Jangan sampai besar pasak daripada tiang, gaes! Masa’ kamu yang gesek kartunya aku yang disuruh bayarin dulu? 😥 Terakhir, waspada deh kalau tiba-tiba ada teman lamaaaaaaaa kamu yang mengontak kamu lewat medsos padahal sebelumnya nggak pernah japri kamu. Bisa jadi temanmu mau ngutang atau mau ngasih undangan nikah dia sama mantan gebetan kamu 😂
Salam anak baik!

0

Pentingkah Asuransi Kesehatan?

Sebagai seorang karyawan swasta, kantor tempat saya bekerja menjamin tiap karyawannya (baik karyawan kontrak maupun karyawan tetap) dalam urusan penjaminan kesehatan. Karena di Indonesia sedang digalakkan program BPJS Kesehatan oleh pemerintah, maka kantor tempat saya bekerja pun menjamin kesehatan kami melalui program ini.

Sebenarnya sejak pertama kali saya bekerja (dulu saya sempat kerja di salah satu perusahaan retail ternama uhuk) saya memang sudah didaftarkan sebagai salah satu peserta BPJS Kesehatan. Jadi, saat saya pindah ke perusahaan yang sekarang saya hanya tinggal meneruskan kepesertaan saya tersebut. Sejujurnya saya kurang paham sih berapa besaran premi yang ditanggung oleh kantor dan juga oleh karyawan. Yang saya tahu tiap bulan dalam slip gaji saya pasti tercantum sejumlah total yang harus dipotong untuk pembayaran BPJS Kesehatan ini dan Jamsostek.

image taken from google

Saya sendiri sebenarnya sudah beberapa kali (kurang dari 10 kali atau malah kurang dari 5 kali, sih) berobat menggunakan kartu BPJS Kesehatan. Saya tipe orang yang malas sekali berobat ke dokter *eh. Serius, deh. Kalau nggak sampai harus masuk IGD, saya malas untuk berobat ke dokter. Bukannya apa-apa, hanya saja kadang saya merasa untuk penyakit yang ringan tubuh saya ini masih kuat lah diajak minum obat warung dulu. Hahaha. Omong-omong soal IGD saya dulu pernah lho waktu di Jogja sakit demam, awalnya saya kira demam biasa. Badan saya lemas, demam tinggi, nggak bisa ngapa-ngapain, deh. Akhirnya dalam kondisi setengah sadar saya dibawa ke IGD RS Sardjito oleh mbak kos saya dan di sana darah saya diambil untuk dicek, just in case saya terkena DBD atau penyakit lainnya. Oh iya, sampai umur 26 tahun ini saya baru sekali dirawat di rumah sakit. Itu pun duluuu, waktu masih SD, karena kena DBD. 
Kembali ke IGD. Dulu itu saya dapat magical card dari Papa saya yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan batu baterai terbesar di Indonesia. Eaa.. magical card? Maksud saya kartu asuransi. HAHAHA. Jadi dulu sewaktu usia saya masih unyu-unyu  kayak kunyuk kesehatan saya terjamin melalui perusahaan tempat Papa saya bekerja. Kami diikutsertakan dalam asuransi kesehatan *piiip* dan mendapat magical card tersebut. Saya pun dulu menggunakan kartu sakti tersebut untuk berobat. Ngahahaha. Bahkan saya tambal dan cabut gigi di Sardjito juga pakai itu, deh kalau nggak salah ingat. Pokoknya kalau ada kartu sakti itu saya bisa berobat di Jogja meskipun saya jauh dari orang tua saya.

Nah, fungsi si BPJS Kesehatan ini juga hampir mirip dengan si magical card yang dulu pernah saya miliki itu, namun sepertinya kok banyak yang bilang pakai BPJS itu ribet, ya? Saya pernah sih ke dokter pakai BPJS. Waktu itu saya sakit punggung 😂 Terus karena nggak tahan akhirnya saya ke klinik faskes pertama yang tertulis di kartu BPJS saya. Prosesnya waktu itu cepat dan mudah. Saya datang ke klinik, daftar sambil menyerahkan kartu BPJS dan KTP, tunggu antrean, deh. Kalau kliniknya lagi sepi ya bisa cepat dipanggil, tapi kalau lagi ramai biasanya lama juga antreannya. Untuk obatnya sendiri karena saya menggunakan BPJS jadi dapat yang generik. Saya nggak bilang obat generik itu jelek, ya.. Hanya saja menurut saya *entah ini sugesti atau bukan* obat generik bekerja jauh lebih lambat dibanding obat paten. Hahaha. Sembuh, sih, tapi kok agak lama 😂

image taken from google

Anyway sebenarnya saya nulis topik ini karena beberapa hari lalu saya dapat telepon dari salah seorang telemarketing AXA Mandiri. Doi menawarkan saya asuransi kesehatan dari AXA Mandiri. Kebetulan saya memang salah satu nasabah bank Mandiri. Sebenarnya sempat heran juga sih, mereka terintegrasi gitu ya sampai nasabah bank ditelponin terus diajak join asuransi begitu? ;):D Preminya kecil, sih,  mungkin karena tabungan saya nggak banyak HAHAHAHA hanya saja saya merasa antara butuh dan nggak butuh gitu. Saya mikirnya saya sudah punya kartu BPJS, dan BPJS menanggung biaya kesehatan saya kalau sakit. Namun, banyak juga yang bilang kalau terpaksanya harus dirawat inap sangat sulit menggunakan BPJS. Beragam cerita yang saya dengar. Mulai dari kamar inap yang nggak tersedia di rumah sakit karena pasien menggunakan BPJS hingga sulit mendapatkan surat rujukan ke rumah sakit. Well, kalau soal ini saya nggak begitu paham karena saya belum pernah mengalami langsung. Cuma ‘kan jadi deg-degan juga semisal saya sakit, terpaksa harus dirawat, namun kesulitan karena “sistem”nya BPJS yang rumit tadi. Saya pun mulai kepikiran cadangan asuransi kesehatan, deh.
Mungkin ada yang lebih ahli soal asuransi kesehatan seperti ini? Monggo dishare pengalamannya!

2

Jadi Editor Komik? (Part 2)

Ini saatnya melanjutkan postingan sebelumnya mengenai pekerjaan saya yaitu editor komik! *plok plok plok* minta banget digaplok 

Selain penerjemah yang kadang bikin pusing, para pembaca pun tak kalah bikin pusing, pemirsa! Mulai dari tanya-tanya ‘kapan volume selanjutnya terbit’ hingga tanya-tanya ‘kamu jomblo nggak, mbak editor?’ masuk ke dalam meja saya. Nggak, deh. Pertanyaan itu nggak termasuk. Hihihi.

Ngedit sambil ngemil atau ngemil sambil ngedit?

Terus apa saja sih kriteria untuk menjadi editor? Hmm, setahu saya sih kalau mau jadi editor kamu harus teliti dan rajin membaca. Rajin membaca di sini dalam artian harus terima dengan konsekuensi bahwa sebuah komik ataupun buku tidak mungkin hanya dibaca sekali saja oleh editornya, melainkan berkali-kali. Nggak mungkin ‘kan baru baca sekali langsung di ACC terus diterbitkan. Bisa-bisa isinya masih typo atau hasil terjemahannya masih berantakan. Khusus untuk editor komik, bukan hanya EYD dan hasil terjemahan saja yang perlu diperhatikan, namun juga saya perlu diperhatikan gambar dalam komik tersebut. Nggak mungkin dong komik untuk anak misalnya tapi di dalamnya ada adegan yang kurang baik. Nah, konten seperti itu yang perlu disensor. Daripada daripada ‘kan yaa kantor saya nanti didatangi segelintir oknum yang menyatakan bahwa itu pornografi atau apa pun itu, jadi tugas seorang editorlah yang memastikan apakah konten dalam komik dan buku tersebut sudah sesuai dengan genre-nya masing-masing. Walaupun saat ini sudah ada komik juga yang memang dikhususkan untuk pembaca dewasa yang berarti bukan komik untuk anak kecil, jadi pintar-pintarnya pembaca juga deh untuk memastikan bacaan yang baik bagi dirinya sendiri.

Satu hal yang saya syukuri ketika menjadi editor komik adalah saat saya berkesempatan jadi orang pertama (selain penerjemah) yang membaca komik tersebut sebelum komiknya dicetak dan disebar ke seluruh Indonesia. Berasa jadi gimana gitu, deh. Spesial karena saya sudah tahu duluan isi ceritanya dibanding Anda sekalian. Fufufu~ Oh iya, jadi editor juga harus aktif, yaa. Aktif dalam mencari judul baru (yang berarti harus berurusan dengan publisher luar ataupun komikus atau penulis lokal) dan aktif dalam ngemil. Lho? Kok ngemil sih, mbak? Iya, ngemil. Soalnya kerjaan seorang editor ‘kan duduk seharian di depan komputer tuh pasti bakal laper, apalagi kalau AC di kantor luar biasa dinginnya ngalahin dinginnya kamuh ke akuh, qaqa bisa-bisa bukannya ngejar deadline malah pingsan karena masuk angin *eh. 

Sudahlah, daripada postingan saya makin nggak jelas lebih baik saya akhiri saja. Apa pun itu profesi Anda syukuri dan jalani saja. Berat atau ringan toh kita sendiri yang menjadikannya. Yang penting halal dan bisa nabung gitu lho buat kawin HAHAHA! Kalau ada yang kalian tanyakan seputar editor khususnya komik silakan. Saya terbuka untuk sharing, lho *macak syantik*. 

Happy Sunday, gaes! Jangan lupa besok Senin 👻👻👻

0

Jadi Editor Komik? (Part 1)

Halo, daripada galau di hari Senin yang cerah ceria ini apalagi habis lihat timeline penuh dengan orang lamaran dan tunangan saya pun memutuskan untuk membuat sedikit tulisan mengenai pekerjaan saya saat ini. Apalagi kalau bukan… Jreng Jreng! *drum roll* ….. editor komik! 😆

Ada yang mau jadi editor komik?

Kalian nggak percaya saya editor komik? 😶  saya juga ragu sih kalau saya seorang editor. Tapi suer, deh. Saya memang editor komik, kok. Seenggaknya sejak 1 tahun 8 bulan lalu saya mulai menggeluti dunia ini. Hihihi.
Menjadi seorang editor awalnya nggak pernah kebayang sama saya. Gimana nggak kebayang, wong saya dulu mikirnya saya nggak begitu jago-jago banget bahasa Korea, kok! Fyi, saya dulu kuliah ambil jurusan Bahasa Korea di salah satu universitas negeri di kota gudeg, Jogja. Selesai kuliah, saya nggak kepikiran sama sekali kalau bakalan berkutat dengan dunia editing apalagi jadi editor komik. Saya cuma suka baca komik. 

Nah, setelah bekerja di dunia ritel selama 1 tahun 9 bulan (akan saya ceritakan di lain kesempatan) yang notabene nggak begitu sesuai dengan jurusan saya, akhirnya saya pun banting stir dengan mencari pekerjaan yang sesuai jurusan sekaligus passion saya. Saya akui sejak kecil saya suka sekali membaca. Baik itu komik maupun novel. Koleksi komik dan novel saya cukup banyak  dan hilang-hilangan dan itu yang membuat saya kepikiran untuk ‘kenapa saya nggak coba saja ngelamar jadi editor komik Korea?’

Ndilalah jadilah saya sekarang mencari rezeki dari profesi editor komik. Jadi editor komik itu penuh suka duka, lho. Dukanya ya kalau dapat hasil terjemahan yang amburadul (oh ya, kebetulan komik yang saya edit adalah komik Korea yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) atau dikejar deadline  duh, mas rasane aku pengen angkat tangan bawa bendera putih wae 😓 Sementara sukanya ya saya bisa baca komik duluan daripada Anda-anda sekalian. BHUAHAHAHA! *be-la-gu*

Semakin tinggi tumpukan bukunya, semakin pusing bacanya *lho?

Oh ya, pernah ada pengalaman kurang mengenakkan yang pernah saya terima, sih. Waktu itu kebetulan saya kebagian tugas mengedit salah satu komik best seller Korea, lalu saya dihujat para fans komik tersebut, dong. Kesalahannya waktu itu karena ketidakkonsistensian *halah ngawur bahasane* bahasa yang digunakan dengan beberapa volume sebelumnya (biasanya ini terjadi pada komik dengan volume banyak let’s say more than 50 volumes). Jadi biasanya tiap beberapa volume itu beda penerjemah, dan kadang juga beda editor. Otomatis bahasa seperti nama jurus dan bahkan penamaan karakter (fyi untuk penamaan nama Korea kadang ribetnya suka beda gitu, misal Kim Ji Min, kadang ditulis Kim Jimin atau kadang Kim Ji-min. Sebenarnya cuma masalah nama mau digabung atau nggak saja, sih) juga suka beda. Sementara kami para editor baru biasanya menyesuaikan dengan volume terdekat, jadi kadang nggak mengikuti dari volume 1. Tapi nggak apa-apa. Sejak kejadian hujatan itu saya jadi baca itu komik dari volume 1 sampai 60 lalu tewas di tengah tumpukan komik.

Belum lagi saat meladeni translator nakal. Jadi biasanya ada penerjemah yang suka ngaret deadline gitu. Mending kalau penerjemahnya ngasih kabar ke saya kalau dia telat mengumpulkan terjemahan dan minta tenggang waktu beberapa hari untuk menyelesaikan, tak jarang penerjemahnya santai tanpa ngasih kabar kapan bisa mengumpulkan terjemahan. Pernah juga tuh saya nombok gara-gara dibohongin penerjemah. Duh! Giliran mau tanya kapan jadwal transfer honor rajin ngejar-ngejar saya, tapi giliran saya tanya kapan selesai terjemahannya boro-boro dibaca, pesan saya dibiarkan saja tuh tercentang dua tanpa centang biru *tsaaah*. 

Begitulah. Kadang ada sukanya, tak jarang banyak duka. Tapi untuk saat ini dijalani saja, toh ilmu yang saya pelajari di zaman kuliah dulu masih bisa terpakai dan saya masih bisa kerja sambil menikmati hobi saya membaca. 

Oh iya, sekadar berbagi buat teman-teman yang mungkin berminat mau menjadi editor, saran saya rajin-rajinlah membaca. Karena menjadi editor artinya harus rajin membaca. Jangan lupa untuk nggak malas buka kamus (KBBI atau kamus bahasa asing) karena kerjaan seorang editor menurut saya bukan cuma ngecekin kata-kata agar sesuai EYD doang, tapi juga harus bisa menampilkan variasi kata yang membuat para pembaca juga nggak jenuh ketika membaca suatu karya dan pastinya kamus berguna untuk membantu pengecekan kesalahan penerjemahan kalau saya sih karena ‘kan komik saya komik terjemahan dari bahasa asing. Terus kalau mau jadi editor jangan baperan kayak saya ini nih dikritik dikit mewek supaya kamu bisa menerima setiap kritikan dan masukan sebagai suatu hal yang berharga dan bisa dipelajari.

Semua pekerjaan tentunya ada plus minus masing-masing. Selama kerjaan itu halal dan bisa menjadikanmu sosok yang bermanfaat bagi banyak orang teruslah berkarya. Jangan pernah berhenti belajar juga, ya. Sekian Monday Talk dari saya. Lanjut part 2 nanti ya masih seputar editor! Hihihihi.

Selamat malam, semesta!

0

Kenyataan Hidup (1)

Karena suatu saat nanti akan tiba saatnya mengikhlaskan apa yang perlu dilepaskan. Bukan berarti tak lagi satu tujuan, hanya saja ada hal-hal yang memang tak bisa dipaksakan. Bukan berarti tak saling menginginkan, hanya saja sulit untuk beriringan. Ya. Akan tiba saatnya melepaskan apa yang seharusnya diikhlaskan…

Disela-sela libur panjang,
9 Juli 2016

0

Sensasi Pulang Pergi Kerja Dengan Transjakarta

Sudah dua minggu ini saya selalu pergi dan pulang kerja menggunakan moda transportasi Transjakarta. Bus yang memiliki halte khusus (biasa disebut shelter) dan juga jalur khusus ini menurut pengamatan saya sekarang sudah jauh lebih nyaman untuk dinaiki dibanding sebelumnya. Siapa sangka saya yang biasanya menggunakan motor ke kantor setiap hari akhirnya menyerah dan memilih untuk duduk manis meskipun tak jarang berdiri sampai kesemutan di dalam Transjakarta koridor 9 jurusan Pinang Ranti-Pluit. Iya, saya nyerah. Jalanan Jakarta saat ini sungguh sangat amat sampai bingung mau nambahin kata apa lagi macet dan penuh sesak. Saya nggak tahu apa karena orang Jakarta dan sekitarnya sekarang bermobil dan bermotor semua atau jalanan yang semakin sempit atau bagaimana, saya gagal paham. Yang jelas saya ingat sekali sore itu di bulan puasa, saya melipir pelan di sisi sebelah kiri jalan menembus kemacetan daerah Semanggi yang juga sedang ada proyek pembangunan flyover. Saya memandang nanar ke arah busway alias jalanan Transjakarta yang saat ini separatornya sudah setinggi setengah badan saya. Enak betul melihat Transjakarta jalan dengan mulus tanpa harus macet-macetan seperti saya. Saya memang gampang iri hati, kok! Dan saya pun akhirnya memutuskan, oke motor saya titipin di terminal Pinang Ranti dan saya naik Transjakarta ke kantor! Voila, saya pun sekarang berangkat sekitar jam setengah lima subuh dari rumah, sampai terminal langsung titip motor ke tempat penitipan motor di seberang terminal, menyeberang jalan masuk ke shelter Transjakarta, berdiri manis diantara para wanita yang juga siap berebut tempat duduk dan begitu bus datang masuklah kami semua secara membabi buta mencari tempat duduk serta posisi berdiri paling nyaman dan bus pun siap berangkat. Begitu setiap hari yang saya alami saat ini. Bersyukurnya setiap hari saya selalu dapat tempat duduk kalau berangkat pagi jam lima. Hehehe.

image

Logo Transjakarta (source Wikipedia)

Perjalanan dengan Transjakarta dari Terminal Pinang Ranti ke kantor saya pun cukup cepat. Hanya butuh waktu sekitar 40 menit jika jalanan di pagi buta sedang lancar. Saya biasa turun di shelter Slipi Petamburan. Dari shelter biasanya saya jalan kaki sekitar 10 hingga 15 menit menuju Palmerah Barat tempat kantor saya berada. Pukul 06.10 atau kadang pukul 06.00 tepat pun saya sudah duduk manis di cubicle saya yang dipenuhi dengan naskah komik yang menjerit minta saya edit. Begitu jam mulai menunjukkan pukul 16.30 saya pun bergegas jalan kaki kembali dari kantor menuju shelter Slipi Petamburan, deh. Di sana biasanya saya menunggu Transjakarta yang lewat. Waktu untuk menunggu Transjakarta ini yang menurut saya masih menjadi PR tersendiri bagi Pemprov DKI dan juga Transjakarta. Bayangkan saja, di saat jam-jam sibuk kadang armada yang lewat masih sangat jarang. Tak jarang kami para penumpang harus menunggu sekitar 15 menit hingga bahkan saya pernah menunggu 30 menit untuk naik Transjakarta jurusan Pinang Ranti. Mungkin sebenarnya armadanya banyak, hanya saja mereka juga terjebak macet kali, ya? Kan belum semua jalur busway sudah steril atau dipasang separator tinggi. Seandainya saja Transjakarta lewat setiap 5 atau 10 menit sekali pasti nggak akan terjadi penumpukan penumpang di shelter. Hehe. You wish! Nggak ada salahnya ngarep, kan?

image

Transjakarta (source: beritatrans.com)

Transjakarta sekarang sudah nyaman, kok. Jalur busway sudah steril bebas dari kendaraan bermotor lainnya dan dijaga oleh polisi hingga petugas Transjakarta, AC di tiap bus terasa dingin (meskipun kalau dapat bus yang tua memang kadang AC-nya nggak berasa, sih), tiap shelter sekarang sudah ada layar monitor untuk memantau bus sudah sampai shelter mana, sudah pakai sistem e-ticketing pula nggak perlu bayar tiket di loket. Duh pokoknya saya sekarang malah jadi ketagihan gitu naik Transjakarta sejak jalurnya steril dan sepanjang Semanggi-Gatsu-Kuningan macet banget. HAHAHA. Apalagi ongkosnya juga nggak beda jauh kalau saya naik motor. Tiap pagi sebelum jam 07.00 saya cukup bayar Rp 2.000 saja sekali jalan. Untuk pulang ongkosnya cuma Rp 3.500 sekali jalan. Biaya titip motor juga cuma Rp 5.000 seharian bebas jamnya. Tuh, sehari saya hanya perlu mengeluarkan ongkos Rp 10.500, beda dikit kalau saya naik motor tiap 2 hari sekali isi bensin Rp 20.000 hihihi.

Begitulah saya, eh, cerita saya soal naik Transjakarta dari dan ke kantor. Harapan saya sih semoga ke depannya Transjakarta lebih baik lagi, lebih sering lagi muncul biar saya nggak sampai lumutan nunggunya 😂 dan pastinya Jakarta bebas macet…………..
Duh, yang terakhir amin, deh. Hahahaha *efek gas rem ganti gigi tiap hari naik motor macet-macetan* atau sebenarnya saya hanya butuh suami buat antar jemput ke kantor? Kode keras.

01.07.16
Di sela-sela cuti kerja.

1

Monday Talk: Gara-Gara Bunga

Lucu sih kalau dipikir-pikir. Seumur-umur sejak saya jadian dengan si Mamas, saya belum pernah diberi sebuket bunga. Seingat saya sih sekalinya dia ngasih bunga cuma waktu PMK alias Persekutuan Mahasiswa Kristen di fakultas kami mengadakan acara cari dana dan si Mamas beli tiga tangkai mawar buat dikasih ke saya. Itu pun sepertinya kami beli karena memang tujuannya nyari dana. Well, Mamas memang orang yang bisa dibilang cukup romantis sebenarnya. Dia jago bikin puisi atau lagu yang bikin saya lumer sampai mbeler-mbeler, namun sayang inisiatif dia kurang. Hahaha Sori, Mas!

Nah, kebetulan minggu lalu saya berangkat ke Jogja untuk mempersiapkan acara bridal shower salah seorang sahabat saya semasa kuliah. Begitu sampai Jogja saya yang notabene belum ikutan membantu bikin pernak-pernik untuk acara tersebut pun akhirnya kebagian jobdesc untuk cetak-cetak foto dan beli bunga. Maka meluncurlah saya ditemani Mamas dan rintik hujan Sabtu siang lalu ke daerah Kotabaru yang memang terkenal banyak toko bunganya. Sesampainya di Kotabaru saya pun segera mencari bunga yang sudah dipesankan oleh teman saya. Bunga krisan kuning.

image

Krisan Kuning~~~

Saya pun membeli sebuket bunga krisan kuning seharga Rp 25.000 saja. sebenarnya bukan buket juga sih, wong ndak pake buket cantik, cuma dilapis kertas koran. Hahaha. Dan karena kami saat itu terjebak hujan yang turun deras secara tiba-tiba dan kenangan masa lalu yang mengalir tanpa henti, akhirnya kami memutuskan untuk berteduh sejenak di toko bunga tersebut. Momen itu pun saya gunakan untuk foto-foto dengan si bunga kuning cantik, dong. Saya lantas bilang pada Mamas kalau saya belum pernah menerima buket bunga dari dia, padahal mantan pacarnya entah sebenarnya jadian atau ndak sih yang cuma dekat dengannya selama tiga bulan sempat menerima buket bunga dari si Mamas. Insting iri hati saya pun keluar dan saya langsung nyerocos soal buket bunga dan kisah cinta kami. Tsadeees! Hahahaha. Intinya sih saya merasa kok mereka yang cuma pacaran 3 bulan saja sudah dikasih bunga segala sama Mamas, sedangkan saya ndak. Begitulah wanita… (atau mungkin saya doang?) HAHAHA.

Singkat cerita Mamas pun menawarkan pada saya untuk dibelikan bunga, lalu saya menolak. IYA, SAYA TOLAK. Soalnya saya ndak mau kalau dikasih bunga karena saya yang merengek. Ng… Rasanya bukan ikhlas dia tulus ngasih ke saya gitu, lho. Saya merasa dia cuma nggak kepengen saya ngambek lalu membanding-bandingkan masa lalu dengan hubungan kami sekarang. Rasanya ya dia akhirnya mau beliin bunga karena saya minta. Fiuh… Mungkin waktu itu saya suudzon kali, ya? Mungkin juga saya yang terlalu sensitif? Entahlah.. yang jelas gara-gara bunga saya jadi baper, deh. Duh, kalau kalian para cewek pernah dikasih sebuket bunga gitu nggak sih sama pacar kalian? Atau malah belum pernah dikasih kayak saya? 😝