2

Lazada: Salah Satu Pilihan Mudah Belanja Online

Another e-commerce review. But this is not a-first-impression-post like my previous post karena bisa dibilang saya sering berbelanja di e-commerce yang satu ini. Hahahak!

P.S.: Ini bukan postingan berbayar and I am not their employee. Saya hanya ingin share saja rasanya belanja di Lazada 😄Siapa tahu bisa memberi informasi bagi para pembaca yang ingin belanja online. 😄

Sedikit flashback, awalnya saya tahu Lazada dari si Mamas. Dia sudah beberapa kali beliin saya barang di situ. Mulai dari boneka segede gambreng sampai mini travel size produk kecantikan yang ternama itu, sebut saja SK ** dibelikan Mamas lewat Lazada. So, saya sudah nggak asing lagi dengan e-commerce yang satu ini. Barang pertama yang saya beli di Lazada apa, ya? Umm.. Kalau nggak salah ingat sih mini travel size produk kosmetika tadi. Waktu itu kebetulan yang dari Mamas habis, so saya langsung pesan lagi ke Lazada.

banyak yang jual hardisk yeay!

biasakan baca review ya

Oh ya, di Lazada banyak seller-nya, kok. Tinggal search mau barang apa atau merk apa, terus nanti muncul deh pilihannya. Mulai dari yang bintangnya banyak sampai nggak ada bintangnya alias belum ada review, mulai dari yang harganya normal sampai yang miring-miring, pokoknya beragam, deh. Pintar-pintarnya kita saja sebagai pembeli untuk teliti dan menentukan. Langkah belanja di Lazada pun gampang. Dan saya sudah terbiasa mengikuti langkah ini karena nggak ribet. Saya punya apps Lazada di smartphone saya dan biasanya saya log in dari situ. Setelah log in (pastikan kamu buat akun di Lazada dulu) tinggal cari barang yang ingin dibeli, deh. Kebetulan kemarin saya habis beliin Mamas dompet dan hardisk eksternal buat kado ulang tahun Mamas Hahaha. Kalau dompet memang si Mamas yang minta sendiri. Dompet dia sudah buluk terus robek-robek, jadi boleh lah ya saya kasih dompet. Sebenarnya dia lagi butuh sepatu kerja juga, sih. Mungkin ada yang berminat endorse si Mamas dengan memberikan sepatu kerja? Nanti saya tulis di blog saya ini, deh *uhuk* *macak professional blogger* Mungkin banyak yang bertanya kenapa saya kasih hardisk bukan sepatu saja. ‘Kan sepatu bisa lebih murah! Ngg… Jadi sebenarnya saya memang sudah lama sekali ingin memberi si Mamas hardisk external gitu karena saya tahu si Mamas suka sekali nonton film atau drama. Dia selalu bolak-balik warnet di Jogja untuk copy film atau drama terus ditonton di kost maklum ora duwe tipi jadi saya kepikiran buat ngasih dia hardisk biar dia bisa menyimpan dengan aman koleksi drama dan filmnya. Psstt.. Sebenarnya ada modus lain juga, sih. ‘kan saya jadi bisa nitip simpan drama favorit saya Bahahahahaha!

Balik ke Lazada. Setelah mendapatkan dompet dan hardisk yang saya inginkan, saya pun add to cart kedua benda tersebut. Setelah mendapat totalannya, saya malah sibuk cairin Telkomsel Poin saya. Lhaa? Maklum sist, saya tampang cari diskonan. Jadi, sedang ada program tukar 10 poin dari Telkomsel Poin dan kalian akan mendapat potongan sebesar Rp 50.000 untuk berbelanja di Lazada. Lumayan ‘kan lima puluh rebu juga duit, tuh. Hahaha. Untuk lebih lanjut silakan cek *700*2*5# dari handphone kalian dan tukarkan poin-nya. Oh iya, promo partner di Lazada nggak cuma dari Telkomsel, kok. Banyak juga yang lain. Silakan dilihat saja dibagian Promo Partner ya, guys. Mayan ‘kan daripada manyun. Nah, setelah saya dapat kode voucher, langsung deh saya masukkan kode voucher ke kolom yang tersedia dan voila! Total belanjaan saya dikurangi otomatis sesuai voucher yang saya dapatkan. 

ini promo partner-nya

Setelah itu saya pun melakukan konfirmasi akan melakukan pembayaran dengan cara m-banking. Saya pun diberi tahu nomor kode virtual dan selesai, deh. Oh iya, enaknya di Lazada itu sistem mulai dari mereka menerima order kita, konfirmasi pembayaran, hingga pengiriman nantinya diinformasikan dengan jelas. Real time gitu semacam ada timeline-nya. Kita akan diberi tahu estimasi pengiriman tanggal berapa barang pesanan saya akan sampai.

nih ada ‘timeline’-nya

Nah, estimasi paket saya tiba di rumah antara tanggal 5-8 Desember, nih. Nanti akan saya kabari lagi bagaimana kelanjutannya, ya! Semoga saja paket untuk Mamas sampai dengan selamat karena sejauh ini saya nggak ada masalah dengan e-commerce yang satu ini. Namun, karena saya baru kali ini pesan benda elektronik di Lazada jadi harap-harap cemas juga, deh dan semoga si Mamas nggak baca postingan saya ini

P.S.S: Ini juga bukan promosi Telkomsel. Murni karena saya memang pelanggan Telkomsel dan menukarkan poin saya untuk mendapat kode voucher 😀


UPDATE!

Akhirnya hardisk dan dompetnya tiba dalam kondisi sangat OK 👌 Hardisk sesuai gambar warnanya merah, dapat free case juga dan antivirus. Cuma saya nggak tahu gimana Mamas download antivirus-nya, tapi ada penjelasan dari seller cara download antivirus tersebut, kok. Untuk dompet so far so good. Hanya saja bahan kulit dalamnya sepertinya tipis, tapi cukup OK juga sesuai gambar. Thanks Lazada, thanks seller!



0

Pentingkah Asuransi Kesehatan?

Sebagai seorang karyawan swasta, kantor tempat saya bekerja menjamin tiap karyawannya (baik karyawan kontrak maupun karyawan tetap) dalam urusan penjaminan kesehatan. Karena di Indonesia sedang digalakkan program BPJS Kesehatan oleh pemerintah, maka kantor tempat saya bekerja pun menjamin kesehatan kami melalui program ini.

Sebenarnya sejak pertama kali saya bekerja (dulu saya sempat kerja di salah satu perusahaan retail ternama uhuk) saya memang sudah didaftarkan sebagai salah satu peserta BPJS Kesehatan. Jadi, saat saya pindah ke perusahaan yang sekarang saya hanya tinggal meneruskan kepesertaan saya tersebut. Sejujurnya saya kurang paham sih berapa besaran premi yang ditanggung oleh kantor dan juga oleh karyawan. Yang saya tahu tiap bulan dalam slip gaji saya pasti tercantum sejumlah total yang harus dipotong untuk pembayaran BPJS Kesehatan ini dan Jamsostek.

image taken from google

Saya sendiri sebenarnya sudah beberapa kali (kurang dari 10 kali atau malah kurang dari 5 kali, sih) berobat menggunakan kartu BPJS Kesehatan. Saya tipe orang yang malas sekali berobat ke dokter *eh. Serius, deh. Kalau nggak sampai harus masuk IGD, saya malas untuk berobat ke dokter. Bukannya apa-apa, hanya saja kadang saya merasa untuk penyakit yang ringan tubuh saya ini masih kuat lah diajak minum obat warung dulu. Hahaha. Omong-omong soal IGD saya dulu pernah lho waktu di Jogja sakit demam, awalnya saya kira demam biasa. Badan saya lemas, demam tinggi, nggak bisa ngapa-ngapain, deh. Akhirnya dalam kondisi setengah sadar saya dibawa ke IGD RS Sardjito oleh mbak kos saya dan di sana darah saya diambil untuk dicek, just in case saya terkena DBD atau penyakit lainnya. Oh iya, sampai umur 26 tahun ini saya baru sekali dirawat di rumah sakit. Itu pun duluuu, waktu masih SD, karena kena DBD. 
Kembali ke IGD. Dulu itu saya dapat magical card dari Papa saya yang kebetulan bekerja di salah satu perusahaan batu baterai terbesar di Indonesia. Eaa.. magical card? Maksud saya kartu asuransi. HAHAHA. Jadi dulu sewaktu usia saya masih unyu-unyu  kayak kunyuk kesehatan saya terjamin melalui perusahaan tempat Papa saya bekerja. Kami diikutsertakan dalam asuransi kesehatan *piiip* dan mendapat magical card tersebut. Saya pun dulu menggunakan kartu sakti tersebut untuk berobat. Ngahahaha. Bahkan saya tambal dan cabut gigi di Sardjito juga pakai itu, deh kalau nggak salah ingat. Pokoknya kalau ada kartu sakti itu saya bisa berobat di Jogja meskipun saya jauh dari orang tua saya.

Nah, fungsi si BPJS Kesehatan ini juga hampir mirip dengan si magical card yang dulu pernah saya miliki itu, namun sepertinya kok banyak yang bilang pakai BPJS itu ribet, ya? Saya pernah sih ke dokter pakai BPJS. Waktu itu saya sakit punggung 😂 Terus karena nggak tahan akhirnya saya ke klinik faskes pertama yang tertulis di kartu BPJS saya. Prosesnya waktu itu cepat dan mudah. Saya datang ke klinik, daftar sambil menyerahkan kartu BPJS dan KTP, tunggu antrean, deh. Kalau kliniknya lagi sepi ya bisa cepat dipanggil, tapi kalau lagi ramai biasanya lama juga antreannya. Untuk obatnya sendiri karena saya menggunakan BPJS jadi dapat yang generik. Saya nggak bilang obat generik itu jelek, ya.. Hanya saja menurut saya *entah ini sugesti atau bukan* obat generik bekerja jauh lebih lambat dibanding obat paten. Hahaha. Sembuh, sih, tapi kok agak lama 😂

image taken from google

Anyway sebenarnya saya nulis topik ini karena beberapa hari lalu saya dapat telepon dari salah seorang telemarketing AXA Mandiri. Doi menawarkan saya asuransi kesehatan dari AXA Mandiri. Kebetulan saya memang salah satu nasabah bank Mandiri. Sebenarnya sempat heran juga sih, mereka terintegrasi gitu ya sampai nasabah bank ditelponin terus diajak join asuransi begitu? ;):D Preminya kecil, sih,  mungkin karena tabungan saya nggak banyak HAHAHAHA hanya saja saya merasa antara butuh dan nggak butuh gitu. Saya mikirnya saya sudah punya kartu BPJS, dan BPJS menanggung biaya kesehatan saya kalau sakit. Namun, banyak juga yang bilang kalau terpaksanya harus dirawat inap sangat sulit menggunakan BPJS. Beragam cerita yang saya dengar. Mulai dari kamar inap yang nggak tersedia di rumah sakit karena pasien menggunakan BPJS hingga sulit mendapatkan surat rujukan ke rumah sakit. Well, kalau soal ini saya nggak begitu paham karena saya belum pernah mengalami langsung. Cuma ‘kan jadi deg-degan juga semisal saya sakit, terpaksa harus dirawat, namun kesulitan karena “sistem”nya BPJS yang rumit tadi. Saya pun mulai kepikiran cadangan asuransi kesehatan, deh.
Mungkin ada yang lebih ahli soal asuransi kesehatan seperti ini? Monggo dishare pengalamannya!

2

Pengalaman Pertama Belanja Online di JD.id

Setelah lama nggak nulis akhirnya saya kembali lagi! merasa bersalah Hahaha. Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita mengenai pengalaman pertama saya berbelanja di salah satu situs e-commerce yakni JD.id

Mungkin para pembaca sekalian sudah nggak heran lagi dengan e-commerce semacam ini karena zaman sekarang semua bisa dibeli via online. Beli baju bisa, beli TV bisa,  beli handphone bisa, bahkan beli pampers anak bisa lewat online! Gimana nggak dimanjakan dengan beragam e-commerce yang tersedia? Kita tinggal log in sebentar ke situsnya, lihat-lihat barangnya, klik add to cart (biasanya), bayar (via mobile banking atau transfer atau bahkan COD!), duduk manis menunggu barang sampai. It’s so easy! Makanya belanja online juga menjadi andalan saya saat ini.

Singkat cerita minggu lalu papa saya pergi ke Padang untuk reunian dengan teman-teman SMA-nya. Nah, pulang dari Padang si papa bawa oleh-oleh banyak sekali. Ada kripik sanjay, rendang telur, dan beberapa snack yang katanya oleh-oleh khas Padang sana, deh. Nggak cuma bawa oleh-oleh, si papa juga bawa pulang handphone rusak. Lha? Jadi rupanya si Bla*kberry milik papa yang sudah menemani sekitar 6 atau 7 tahun itu sempat terkena air hujan. Sebenarnya memang dia sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan sih sejak dua bulan lalu. Dan sejak dua bulan lalu juga saya berencana membelikan beliau handphone baru namun belum kesampaian karena saya sibuk menabung untuk nikah 😂 Dan karena nggak jadi nikah akhirnya baru sekarang kesampaian.

Papa saya bukan orang yang gadget freak. Dulu beliau malah ngajarin saya “punya handphone tuh yang penting asal bisa nelepon dan SMS karena itu memang fungsi utamanya”. Well, okay. Nggak salah memang, tapi zaman semakin berkembang dan tentunya kebutuhan akan smartphone makin bertambah. Hahaha. Apa, sih? Ya sudah intinya akhirnya saya menjatuhkan pilihan untuk membelikan beliau satu buah unit smartphone ASUS Zenfone Go ZB450KL. Dilihat dari specs-nya sih handphone ini sudah mendukung jaringan 4G. Ditambah lagi harganya itu lho sangat terjangkau buat saya yang kere ini HAHAHA. Nggak apa-apa deh kere asal sayang Papa. Eaa…

Back to the topic. Awalnya saya ragu sih belanja barang elektronik via online. Jujur saja ini pertama kalinya saya belanja barang elektronik via online. Biasanya saya belanja online hanya untuk kosmetika dan pakaian, itu pun belanjanya di e-commerce sebelah. Kenapa saya menjatuhkan pilihan pada JD.id? Awalnya saya tahu JD.id dari salah seorang rekan saya di kantor. Kebetulan beberapa bulan lalu dia baru beli smartphone juga di situs ini. Dia pun merekomendasikan pada saya situs e-commerce asal Tiongkok ini karena harganya yang kompetitif. Sebelum meluncur ke situs JD.id saya juga sudah survey dan membandingkan harga handphone incaran saya itu dengan e-commerce tempat saya biasa belanja. Eaa.. Kalau di e-commerce tempat saya biasa belanja sih patut diacungi jempol ya karena selain transaksinya mudah, barangnya juga cepat sampai kata siapa Bekasi itu ada di luar bumi HAH? Saya pun berkeyakinan JD.id nggak beda jauh sama e-commerce lainnya. 

Saya memesan handphone hari Kamis siang tanggal 24 November 2016, melakukan pembayaran via transfer bank pada Jumat pagi tanggal 25 November dan barang tiba di rumah saya (Bekasi bok!) pada hari Selasa siang tanggal 29 November 2016. Cukup cepat? Yah, lumayan meskipun awalnya saya berharap hari Senin barangnya sudah sampai di tangan saya. Tapi not so bad juga karena barang sudah ada di tangan saya dalam waktu nggak lebih dari seminggu. Sempat deg-degan juga sih karena ini pertama kalinya beli handphone via e-commerce dan sebelumnya banyak berita kurang enak beredar kalau barang pesanan kadang nggak sesuai dengan specs atau malah pesanannya berubah jadi kotak sabun (?) If you know that story muahahaha. 

Oh iya, belanja di JD.id caranya hampir sama seperti belanja di e-commerce sebelah, kok. Tinggal masuk ke website JD.id, pilih-pilih barang, add to cart seperti biasa, belanjaan kita ditotal secara otomatis, pilih metode pembayaran dan e-mail konfirmasi pun dikirimkan. Hanya saja saya kurang sreg dengan sistem konfirmasi pembayaran mereka yang melalui e-mail. Biasanya sepengalaman saya belanja online di e-commerce sebelah, saat melakukan pembayaran saya nggak perlu lagi mengirim bukti pembayaran ke pihak e-commerce karena biasanya saya tinggal input nomor order di atm dan status pesanan saya otomatis berganti. Sementara kemarin saat berbelanja di JD.id, saya harus mengirimkan bukti transfer ke e-mail mereka di cs@jd.id terlebih dahulu dan setelah mereka menjawab e-mail saya barulah status pesanan saya berubah. Agak ribet dan nggak simple menurut saya karena harus menunggu jawaban e-mail mereka, tapi saya kurang tahu apakah untuk sistem pembayaran yang lain alurnya sama seperti itu atau nggak.

ada charger tapi nggak ada headset ya?

By the way, barang pesanan saya datang dengan kardus berisikan semacam plastik bergelembung (?) Not bubblewrap actually, tapi isi di dalamnya masih dalam kondisi baik, sih. Dan diantar menggunakan jasa pengiriman J-Express. Saya belum pernah dengar jasa pengiriman ini sebelumnya, sih. Namun cara tracking barang pesanan kita juga mudah. Cukup masuk ke website mereka dan masukkan nomor order pesanan kita.

Nah, sekian sharing saya mengenai belanja online pertama kalinya di situs JD.id 😄 Semoga informasi ini bermanfaat, ya..

2

Jadi Editor Komik? (Part 2)

Ini saatnya melanjutkan postingan sebelumnya mengenai pekerjaan saya yaitu editor komik! *plok plok plok* minta banget digaplok 

Selain penerjemah yang kadang bikin pusing, para pembaca pun tak kalah bikin pusing, pemirsa! Mulai dari tanya-tanya ‘kapan volume selanjutnya terbit’ hingga tanya-tanya ‘kamu jomblo nggak, mbak editor?’ masuk ke dalam meja saya. Nggak, deh. Pertanyaan itu nggak termasuk. Hihihi.

Ngedit sambil ngemil atau ngemil sambil ngedit?

Terus apa saja sih kriteria untuk menjadi editor? Hmm, setahu saya sih kalau mau jadi editor kamu harus teliti dan rajin membaca. Rajin membaca di sini dalam artian harus terima dengan konsekuensi bahwa sebuah komik ataupun buku tidak mungkin hanya dibaca sekali saja oleh editornya, melainkan berkali-kali. Nggak mungkin ‘kan baru baca sekali langsung di ACC terus diterbitkan. Bisa-bisa isinya masih typo atau hasil terjemahannya masih berantakan. Khusus untuk editor komik, bukan hanya EYD dan hasil terjemahan saja yang perlu diperhatikan, namun juga saya perlu diperhatikan gambar dalam komik tersebut. Nggak mungkin dong komik untuk anak misalnya tapi di dalamnya ada adegan yang kurang baik. Nah, konten seperti itu yang perlu disensor. Daripada daripada ‘kan yaa kantor saya nanti didatangi segelintir oknum yang menyatakan bahwa itu pornografi atau apa pun itu, jadi tugas seorang editorlah yang memastikan apakah konten dalam komik dan buku tersebut sudah sesuai dengan genre-nya masing-masing. Walaupun saat ini sudah ada komik juga yang memang dikhususkan untuk pembaca dewasa yang berarti bukan komik untuk anak kecil, jadi pintar-pintarnya pembaca juga deh untuk memastikan bacaan yang baik bagi dirinya sendiri.

Satu hal yang saya syukuri ketika menjadi editor komik adalah saat saya berkesempatan jadi orang pertama (selain penerjemah) yang membaca komik tersebut sebelum komiknya dicetak dan disebar ke seluruh Indonesia. Berasa jadi gimana gitu, deh. Spesial karena saya sudah tahu duluan isi ceritanya dibanding Anda sekalian. Fufufu~ Oh iya, jadi editor juga harus aktif, yaa. Aktif dalam mencari judul baru (yang berarti harus berurusan dengan publisher luar ataupun komikus atau penulis lokal) dan aktif dalam ngemil. Lho? Kok ngemil sih, mbak? Iya, ngemil. Soalnya kerjaan seorang editor ‘kan duduk seharian di depan komputer tuh pasti bakal laper, apalagi kalau AC di kantor luar biasa dinginnya ngalahin dinginnya kamuh ke akuh, qaqa bisa-bisa bukannya ngejar deadline malah pingsan karena masuk angin *eh. 

Sudahlah, daripada postingan saya makin nggak jelas lebih baik saya akhiri saja. Apa pun itu profesi Anda syukuri dan jalani saja. Berat atau ringan toh kita sendiri yang menjadikannya. Yang penting halal dan bisa nabung gitu lho buat kawin HAHAHA! Kalau ada yang kalian tanyakan seputar editor khususnya komik silakan. Saya terbuka untuk sharing, lho *macak syantik*. 

Happy Sunday, gaes! Jangan lupa besok Senin 👻👻👻

0

Ada Cinta Dalam Kotak Bekalku 

Ada cinta dalam kotak bekalku pagi ini. Bekal sederhana namun terasa istimewa kala yang tercinta membuatkannya. Kupanggil dia ‘bapak’, lelaki pertama yang membuatku merasa aman dan percaya bahwa masih ada laki-laki baik di muka bumi ini.

Bapakku sudah pensiun. Usianya memang baru setengah abad lebih sedikit, namun karena beliau seorang pegawai swasta biasa alhasil beliau harus pensiun di usianya. Sudah dua tahun masa pensiun beliau lalui, namun bukan berarti beliau sibuk ongkang-ongkang kaki di rumah. Jenuh katanya, beliau pun memutuskan untuk kembali cari ‘kesibukan’.

Pagi hari tadi aku bangun seperti biasa. Jam setengah lima kurang sepuluh menit. Seperti biasa pula di dapur sudah terdengar suara pisau beradu, kompor menyala dan nasi yang mulai dipanaskan. Kulihat di dapur ada bapak di sana. Dia yang menyiapkan bekalku hari ini rupanya. 

Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Sejak dulu beliau lah yang menjaga aku dan adik-adikku di rumah, mengajar kami, menemani kami membuat PR dan lain-lainnya. Pagi tadi ibuku masih terlelap di kamar. Beliau sakit. Kata bapakku beliau tidak bisa tidur semalaman karena alerginya kumat. Akhirnya pagi tadi bapak lah yang menggantikan tugas ibu untuk menyiapkan bekal bagiku.

Bekalnya sederhana. Kornet dan nasi putih. Dimasukkan dalam kotak bekal berwarna merah muda yang selalu kubawa-bawa. Dibungkus rapi dalam plastik dan dimasukkan dalam tas yang biasa kubawa untuk bekerja. 

Kotak bekalku mungkin sederhana. Namun pagi ini kusadari ada beragam cinta yang tertata, bukan sekadar kornet dan nasi semata tapi juga untaian harapan serta doa. Doa agar aku bisa melewati hariku dengan kuat dan lebih tegar dari sebelumnya. Doa agar pekerjaanku bisa membawa berkat bagi keluarga dan orang lain. Doa agar aku bisa terus berkarya walau susah payah.

Ah, mataku mulai berkaca-kaca jika mengingat bekal yang tiap hari disiapkan bapak ibuku. Ada cinta dalam kotak bekalku…

0

Jadi Editor Komik? (Part 1)

Halo, daripada galau di hari Senin yang cerah ceria ini apalagi habis lihat timeline penuh dengan orang lamaran dan tunangan saya pun memutuskan untuk membuat sedikit tulisan mengenai pekerjaan saya saat ini. Apalagi kalau bukan… Jreng Jreng! *drum roll* ….. editor komik! 😆

Ada yang mau jadi editor komik?

Kalian nggak percaya saya editor komik? 😶  saya juga ragu sih kalau saya seorang editor. Tapi suer, deh. Saya memang editor komik, kok. Seenggaknya sejak 1 tahun 8 bulan lalu saya mulai menggeluti dunia ini. Hihihi.
Menjadi seorang editor awalnya nggak pernah kebayang sama saya. Gimana nggak kebayang, wong saya dulu mikirnya saya nggak begitu jago-jago banget bahasa Korea, kok! Fyi, saya dulu kuliah ambil jurusan Bahasa Korea di salah satu universitas negeri di kota gudeg, Jogja. Selesai kuliah, saya nggak kepikiran sama sekali kalau bakalan berkutat dengan dunia editing apalagi jadi editor komik. Saya cuma suka baca komik. 

Nah, setelah bekerja di dunia ritel selama 1 tahun 9 bulan (akan saya ceritakan di lain kesempatan) yang notabene nggak begitu sesuai dengan jurusan saya, akhirnya saya pun banting stir dengan mencari pekerjaan yang sesuai jurusan sekaligus passion saya. Saya akui sejak kecil saya suka sekali membaca. Baik itu komik maupun novel. Koleksi komik dan novel saya cukup banyak  dan hilang-hilangan dan itu yang membuat saya kepikiran untuk ‘kenapa saya nggak coba saja ngelamar jadi editor komik Korea?’

Ndilalah jadilah saya sekarang mencari rezeki dari profesi editor komik. Jadi editor komik itu penuh suka duka, lho. Dukanya ya kalau dapat hasil terjemahan yang amburadul (oh ya, kebetulan komik yang saya edit adalah komik Korea yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) atau dikejar deadline  duh, mas rasane aku pengen angkat tangan bawa bendera putih wae 😓 Sementara sukanya ya saya bisa baca komik duluan daripada Anda-anda sekalian. BHUAHAHAHA! *be-la-gu*

Semakin tinggi tumpukan bukunya, semakin pusing bacanya *lho?

Oh ya, pernah ada pengalaman kurang mengenakkan yang pernah saya terima, sih. Waktu itu kebetulan saya kebagian tugas mengedit salah satu komik best seller Korea, lalu saya dihujat para fans komik tersebut, dong. Kesalahannya waktu itu karena ketidakkonsistensian *halah ngawur bahasane* bahasa yang digunakan dengan beberapa volume sebelumnya (biasanya ini terjadi pada komik dengan volume banyak let’s say more than 50 volumes). Jadi biasanya tiap beberapa volume itu beda penerjemah, dan kadang juga beda editor. Otomatis bahasa seperti nama jurus dan bahkan penamaan karakter (fyi untuk penamaan nama Korea kadang ribetnya suka beda gitu, misal Kim Ji Min, kadang ditulis Kim Jimin atau kadang Kim Ji-min. Sebenarnya cuma masalah nama mau digabung atau nggak saja, sih) juga suka beda. Sementara kami para editor baru biasanya menyesuaikan dengan volume terdekat, jadi kadang nggak mengikuti dari volume 1. Tapi nggak apa-apa. Sejak kejadian hujatan itu saya jadi baca itu komik dari volume 1 sampai 60 lalu tewas di tengah tumpukan komik.

Belum lagi saat meladeni translator nakal. Jadi biasanya ada penerjemah yang suka ngaret deadline gitu. Mending kalau penerjemahnya ngasih kabar ke saya kalau dia telat mengumpulkan terjemahan dan minta tenggang waktu beberapa hari untuk menyelesaikan, tak jarang penerjemahnya santai tanpa ngasih kabar kapan bisa mengumpulkan terjemahan. Pernah juga tuh saya nombok gara-gara dibohongin penerjemah. Duh! Giliran mau tanya kapan jadwal transfer honor rajin ngejar-ngejar saya, tapi giliran saya tanya kapan selesai terjemahannya boro-boro dibaca, pesan saya dibiarkan saja tuh tercentang dua tanpa centang biru *tsaaah*. 

Begitulah. Kadang ada sukanya, tak jarang banyak duka. Tapi untuk saat ini dijalani saja, toh ilmu yang saya pelajari di zaman kuliah dulu masih bisa terpakai dan saya masih bisa kerja sambil menikmati hobi saya membaca. 

Oh iya, sekadar berbagi buat teman-teman yang mungkin berminat mau menjadi editor, saran saya rajin-rajinlah membaca. Karena menjadi editor artinya harus rajin membaca. Jangan lupa untuk nggak malas buka kamus (KBBI atau kamus bahasa asing) karena kerjaan seorang editor menurut saya bukan cuma ngecekin kata-kata agar sesuai EYD doang, tapi juga harus bisa menampilkan variasi kata yang membuat para pembaca juga nggak jenuh ketika membaca suatu karya dan pastinya kamus berguna untuk membantu pengecekan kesalahan penerjemahan kalau saya sih karena ‘kan komik saya komik terjemahan dari bahasa asing. Terus kalau mau jadi editor jangan baperan kayak saya ini nih dikritik dikit mewek supaya kamu bisa menerima setiap kritikan dan masukan sebagai suatu hal yang berharga dan bisa dipelajari.

Semua pekerjaan tentunya ada plus minus masing-masing. Selama kerjaan itu halal dan bisa menjadikanmu sosok yang bermanfaat bagi banyak orang teruslah berkarya. Jangan pernah berhenti belajar juga, ya. Sekian Monday Talk dari saya. Lanjut part 2 nanti ya masih seputar editor! Hihihihi.

Selamat malam, semesta!

0

Berkreasi Dengan Bunga Kering

Kali ini saya mau sedikit pamer *eh. Bukan pamer harta benda, sih, soalnya saya mah apa atuh nggak punya apa-apa 😦 Saya mau pamerin hasil karya saya. Hihihi. Meskipun mungkin nggak sebagus hasil karya seniman papan atas, tapi dengan bangga saya persembahkan hasil karya saya…

Jreng Jreng! *drum roll*

hasil prakarya dari bunga kering

Nah, kebetulan dua hari ini saya cuti kerja. Dan karena bosen dari kemarin ngerjain editan komik terus (fyi, meskipun cuti kerjaan teteup dibawa bo’) akhirnya tadi siang saya putuskan untuk ‘merangkai’ bunga yang sudah dari bulan lalu saya keringkan.

Masih ingat cerita saya soal kedatangan buket bunga dari Mamas? Nah, daripada bunga dari Mamas mubazir teronggok di tempat sampah layu begitu saja, akhirnya bunganya saya keringkan. Sembari menunggu bunga kering, saya kepikiran untuk membuat sesuatu dari bunga-bunga kering tersebut yang pastinya bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Ciyee…

Tadi siang waktu jemput adik saya pulang sekolah, saya dan adik mampir ke toko buku. Dia mau beli sampul plastik dan mata saya jelalatan ngeliatin pigura kecil ukuran postcard seharga sepuluh ribu Rupiah. Entah kesambet setan apa dipikiran saya pun terbersit untuk menempelkan bunga kering dari Mamas pada pigura. Berbekal uang tiga puluh ribu di dompet saya pun beli tiga buah pigura warna-warni untuk wadah eksperimen saya, deh. 

Sampai di rumah saya sempat bingung, mau ditempelin seperti apa si bunga kering tadi pada pigura yang sudah saya beli. Kalau cuma ditempel biasa rasane kok ndak nyeni *hasyah*. Akhirnya setelah corat-coret sana-sini saya putuskan untuk ‘sedikit’ menggambar dan menggunting-gunting kelopak bunga kering dari Mamas. 

Untuk pigura pertama, saya isi dengan setangkai mawar (yang dulunya) berwarna merah. Nah, mawar ini satu-satunya yang tetap cantik bentuknya selama proses pengeringan. Hahaha. Saya mengeringkan si tangkai mawar dengan cara menjepitnya di antara buku-buku berat sampai dia kering sendiri begitu. Sebenarnya ada dua cara yang saya gunakan untuk mengeringkan buket bunga dari Mamas waktu itu. Cara pertama dengan menjepit bunga di antara buku-buku berat sampai kering dan cara kedua dengan menggantung bunga-bunga sampai kering sendiri juga. Cara mengeringkan bunga dengan menjepitnya di antara buku-buku berat rupanya cukup ampuh membuat bentuk bunga tetap bagus. 

Saya suka banget sama piguranya!

Pigura kedua saya isi bukan dengan mawar, dan sampai sekarang saya nggak tahu ini bunga apa. Hahaha. Karena sok nyeni akhirnya saya iseng gambar cewek dan cowok yang merepresentasikan saya dan Mamas. Kata Mamas sih kayak snowman. Hihihi. Sedikit hiasan saya gunting kelopak bunga mawar (yang dulunya warna pink dan merah) jadi matahari dan balon. Lumayan lah gambarnya meskipun mungkin kayak gambar anak TK baru belajar gambar…… Ngg….

Pas gendutnya *eh

Untuk pigura terakhir saya sempat bingung. Mawar yang bentukannya oke sudah nggak ada, sisa kelopak semua. Sedangkan mau ngegambar lagi saya takut diketawain karena gambar saya kurang oke. Akhirnya saya bentuk love saja deh kelopak-kelopak mawar yang ada dan saya pun nulis ‘thank you’ di bagian bawahnya dengan tujuan memang sebagai ucapan terima kasih untuk Mamas 🙂

Mungkin agak absurd, tapi not bad lah hihi

Akhir kata sekian pamer dari saya. Hihihi. Senang sih akhirnya buket bunga dari Mamas nggak sia-sia terbuang layu percuma *halah. Dan waktu saya pamerin ke Mamas dia bilang “Disimpen, ya. Nanti kita pajang di rumah kita.” Eaaa… Rumah kita… Hahahaha langsung klepek-klepek deh saya *ups*.