Westlife: A Flashback To My Childhood

Coba angkat tangan kalian kalau kalian pernah dengar lagu I Have a Dream, Seasons In The Sun, Flying Without Wings atau My Love. Adakah di antara kalian yang nggak familiar dengan judul lagu tersebut? Kayaknya hampir semua anak generasi 90-an pernah mendengar judul-judul lagu yang dibawakan lima pemuda tampan asal Irlandia, Westlife. Benar, Westlife begitu fenomenal di zamannya.

Zaman saya masih SD alias sekitar 16-17 tahun lalu, saya salah seorang fans Westlife. Saya mulai menyukai boyband tersebut sewaktu duduk di bangku kelas 4 atau 5 SD. Saya lupa tepatnya bagaimana, tapi saya mulai merasakan chemistry dengan Westlife saat tak sengaja menonton video klip mereka yang berjudul Seasons In The Sun di salah satu stasiun televisi. Waktu itu saya cuma memerhatikan kelima personil Westlife bernyanyi. Tampak latar belakang video klip mereka yang begitu simple dan suram, namun lagunya bisa langsung terngiang di telinga saya. Saat muncul nama penyanyi dan judul lagu di pojok kiri bawah, saya pun langsung menghafalnya. Westlife. Seasons In The Sun.

Seasons In The Sun. Source: Google

Lain waktu saat itu saya yang hendak berulang tahun ke-9 (atau 10? saya agak lupa) meminta hadiah kaset boyband yang lagunya terngiang di telinga saya itu. Ya, saya minta hadiah kaset Westlife pada salah seorang tante saya dan dia membelikannya. Yeay! Saya pun senantiasa mendengarkan kaset Westlife pertama saya itu. Album pertama Westlife yang saya miliki. Westlife Deluxe. Tiada hari tanpa mendengarkan lagu mereka. Tiada hari tanpa menunggu kehadiran mereka di layar kaca melalui MTv (dulu kalau nggak salah MTv ada di Antv). Pokoknya Westlife setiap hari. Saya mulai mengoleksi poster, kertas binder dengan wajah para personil, majalah dan juga mengoleksi imajinasi saya mengenai kelima pemuda Irish tersebut.

Album pertama Westlife. Source: Google

Album kedua keluar. Coast to Coast judulnya. Lagi-lagi membuat saya kecanduan. Kaset-kaset Westlife menemani hari-hari saya. Hingga kaset Westlife Deluxe saya suaranya sember, sampai kusut sekalipun saya tetap berusaha memperbaiki si pita kaset. Semua demi Westlife. Lagi-lagi koleksi poster, buku dan semua tentang Westlife saya pelihara *eh koleksi maksudnya. Dan imajinasi akan bertemu sang boyband idola pun makin menggila. Apalagi di lagu My Love yang katanya “So I say a little prayer and hope my dreams will take me there. Where the skies are blue to see you once again, my love…” beuh, makin bikin saya menggila dalam imajinasi kalau saya akan ke Ireland dan bertemu pujaan hati saya, Mark. Oh ya, saya sudah bilang belum? Personil Westlife favorit saya sepanjang masa hingga hari ini adalah Westlife. Kenapa harus Mark? Entah. Saya juga nggak tahu jawabannya. Saat melihat mereka bernyanyi dalam video klip Seasons In The Sun saya langsung menunjuk Mark saat itu. Saya hanya bilang dalam hati saya, “keren juga dia.” OMG, anak SD cuy sudah bisa ngefans sama cowok ganteng. Hahaha! Jadilah sejak itu saya menyandang nama Feehily di belakang nama saya. Maklum, anak zaman dulu ‘kan gitu. Kalau ngefans pasti nama belakangnya ditambahin nama belakang idolanya juga. Sekarang gitu juga nggak?

Westlife tanpa Brian. Brian McFadden decided to leave Westlife at 2014. Image source: Google

Westlife pun sempat datang ke Indonesia waktu itu. Tiga kali kalau saya nggak salah hitung. Atau empat, ya? Tapi nggak satu pun saya berkesempatan untuk ikut konser mereka. 😂 Konser pertama dan kedua saya masih anak sekolahan banget. Nggak punya duit buat nonton konser mereka dan waktu konser pertama sempat tanya tiket tapi rupanya sudah sold out. Waktu terakhir Westlife kemari (Gravity Tour tahun 2011 if I’m not mistaken) saya sudah kuliah dan lagi persiapan skripsi. Tapi lagi-lagi dengan alasan masih anak kuliahan, belum bisa menghasilkan penghasilan sendiri dan posisi saya di Jogja waktu itu saya pun nggak bisa ke Jakarta nonton konser terakhir mereka itu. Sedih? Sedih banget. Apalagi mereka sudah mengumumkan untuk bubar jalan setelah menemani saya tumbuh dewasa selama 14 tahun. Saya tanpa Westlife mungkin nggak bakal bisa bahasa Inggris sampai saat ini. It doesn’t mean I speak English well, but I started learn English because Westlife. Hahaha.
Kok tiba-tiba saya nulis soal Westlife? Nggak tahu. Kangen saja. Meskipun mereka sudah bubar jalan, saya masih suka dengar lagu mereka. Meskipun mereka sudah kayak om-om, saya masih tetap suka mantengin wajah tampan mereka. Makin tua makin jadi, ‘kan? 🙈 Anyway, postingan saya kali ini saya dedikasikan untuk semua fans Westlife di mana pun kalian berada. The Irish lads still in our hearts…


Salam,

🐳🐳🐳
p.s.: Postingan ini entah sudah berapa lama ngendon di draft saya, tapi akhirnya saya publish juga. Hahaha. Dasar pemalas 😅

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s