Sensasi Pulang Pergi Kerja Dengan Transjakarta

Sudah dua minggu ini saya selalu pergi dan pulang kerja menggunakan moda transportasi Transjakarta. Bus yang memiliki halte khusus (biasa disebut shelter) dan juga jalur khusus ini menurut pengamatan saya sekarang sudah jauh lebih nyaman untuk dinaiki dibanding sebelumnya. Siapa sangka saya yang biasanya menggunakan motor ke kantor setiap hari akhirnya menyerah dan memilih untuk duduk manis meskipun tak jarang berdiri sampai kesemutan di dalam Transjakarta koridor 9 jurusan Pinang Ranti-Pluit. Iya, saya nyerah. Jalanan Jakarta saat ini sungguh sangat amat sampai bingung mau nambahin kata apa lagi macet dan penuh sesak. Saya nggak tahu apa karena orang Jakarta dan sekitarnya sekarang bermobil dan bermotor semua atau jalanan yang semakin sempit atau bagaimana, saya gagal paham. Yang jelas saya ingat sekali sore itu di bulan puasa, saya melipir pelan di sisi sebelah kiri jalan menembus kemacetan daerah Semanggi yang juga sedang ada proyek pembangunan flyover. Saya memandang nanar ke arah busway alias jalanan Transjakarta yang saat ini separatornya sudah setinggi setengah badan saya. Enak betul melihat Transjakarta jalan dengan mulus tanpa harus macet-macetan seperti saya. Saya memang gampang iri hati, kok! Dan saya pun akhirnya memutuskan, oke motor saya titipin di terminal Pinang Ranti dan saya naik Transjakarta ke kantor! Voila, saya pun sekarang berangkat sekitar jam setengah lima subuh dari rumah, sampai terminal langsung titip motor ke tempat penitipan motor di seberang terminal, menyeberang jalan masuk ke shelter Transjakarta, berdiri manis diantara para wanita yang juga siap berebut tempat duduk dan begitu bus datang masuklah kami semua secara membabi buta mencari tempat duduk serta posisi berdiri paling nyaman dan bus pun siap berangkat. Begitu setiap hari yang saya alami saat ini. Bersyukurnya setiap hari saya selalu dapat tempat duduk kalau berangkat pagi jam lima. Hehehe.

image
Logo Transjakarta (source Wikipedia)

Perjalanan dengan Transjakarta dari Terminal Pinang Ranti ke kantor saya pun cukup cepat. Hanya butuh waktu sekitar 40 menit jika jalanan di pagi buta sedang lancar. Saya biasa turun di shelter Slipi Petamburan. Dari shelter biasanya saya jalan kaki sekitar 10 hingga 15 menit menuju Palmerah Barat tempat kantor saya berada. Pukul 06.10 atau kadang pukul 06.00 tepat pun saya sudah duduk manis di cubicle saya yang dipenuhi dengan naskah komik yang menjerit minta saya edit. Begitu jam mulai menunjukkan pukul 16.30 saya pun bergegas jalan kaki kembali dari kantor menuju shelter Slipi Petamburan, deh. Di sana biasanya saya menunggu Transjakarta yang lewat. Waktu untuk menunggu Transjakarta ini yang menurut saya masih menjadi PR tersendiri bagi Pemprov DKI dan juga Transjakarta. Bayangkan saja, di saat jam-jam sibuk kadang armada yang lewat masih sangat jarang. Tak jarang kami para penumpang harus menunggu sekitar 15 menit hingga bahkan saya pernah menunggu 30 menit untuk naik Transjakarta jurusan Pinang Ranti. Mungkin sebenarnya armadanya banyak, hanya saja mereka juga terjebak macet kali, ya? Kan belum semua jalur busway sudah steril atau dipasang separator tinggi. Seandainya saja Transjakarta lewat setiap 5 atau 10 menit sekali pasti nggak akan terjadi penumpukan penumpang di shelter. Hehe. You wish! Nggak ada salahnya ngarep, kan?

image
Transjakarta (source: beritatrans.com)

Transjakarta sekarang sudah nyaman, kok. Jalur busway sudah steril bebas dari kendaraan bermotor lainnya dan dijaga oleh polisi hingga petugas Transjakarta, AC di tiap bus terasa dingin (meskipun kalau dapat bus yang tua memang kadang AC-nya nggak berasa, sih), tiap shelter sekarang sudah ada layar monitor untuk memantau bus sudah sampai shelter mana, sudah pakai sistem e-ticketing pula nggak perlu bayar tiket di loket. Duh pokoknya saya sekarang malah jadi ketagihan gitu naik Transjakarta sejak jalurnya steril dan sepanjang Semanggi-Gatsu-Kuningan macet banget. HAHAHA. Apalagi ongkosnya juga nggak beda jauh kalau saya naik motor. Tiap pagi sebelum jam 07.00 saya cukup bayar Rp 2.000 saja sekali jalan. Untuk pulang ongkosnya cuma Rp 3.500 sekali jalan. Biaya titip motor juga cuma Rp 5.000 seharian bebas jamnya. Tuh, sehari saya hanya perlu mengeluarkan ongkos Rp 10.500, beda dikit kalau saya naik motor tiap 2 hari sekali isi bensin Rp 20.000 hihihi.

Begitulah saya, eh, cerita saya soal naik Transjakarta dari dan ke kantor. Harapan saya sih semoga ke depannya Transjakarta lebih baik lagi, lebih sering lagi muncul biar saya nggak sampai lumutan nunggunya 😂 dan pastinya Jakarta bebas macet…………..
Duh, yang terakhir amin, deh. Hahahaha *efek gas rem ganti gigi tiap hari naik motor macet-macetan* atau sebenarnya saya hanya butuh suami buat antar jemput ke kantor? Kode keras.

01.07.16
Di sela-sela cuti kerja.

Iklan
Sensasi Pulang Pergi Kerja Dengan Transjakarta

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s