Sunday Talk: [Curhat Calon Manten] Sudah Siapkah Anda (Memulai Hidup Baru)?

Wait, pernyataan [calon manten] dalam judul postingan saya kali ini merujuk pada sahabat saya sendiri yang memang betulan officially jadi calon manten. Jadi bukan calon manten seperti saya yang masih belum tahu kapan nikah, sih.

Disclaimer: Postingan ini mungkin bakal bikin beberapa orang yang membacanya jadi baper atau laper mungkin? Jadi disarankan bacanya biasa saja, jangan pakai hati :’

Back to the main topic! Nah, ceritanya tadi saya hampir menghabiskan 1.5 jam di telepon untuk curhat sebenarnya yang curhat teman saya, sih dengan sahabat baik saja sebut saja B nun jauh di sana. Si B ini ceritanya sebentar lagi mau menikah. Dia kebetulan sudah dilamar sang pujaan hati awal tahun kemarin dan berencana akan melangsungkan pernikahan di pertengahan tahun ini. B ini sahabat saya sejak di bangku kuliah dulu. Saya tahu kondisi keluarganya dan kebetulan B sudah tidak punya ayah dan ibu lagi. Sebagai seorang perempuan dari keluarga Batak, B pun merasa agak kesulitan karena menjelang persiapan pernikahan ini B dihadapkan dengan segala pergumulan yang menyangkut adat istiadat pernikahan Batak :’ Saya nggak ngerti sih bagaimana adat pernikahan Batak, hanya saja B cerita dia mengalami pergumulan dalam persiapannya dan itu membuat dia galau, ragu, baper dan segala macam perasaan yang menguras emosi dan air matanya (read: bikin nangis darah kalau kata si B).

Singkat cerita si B pun tadi cerita pada saya kalau dia membawa pergumulan dalam persiapan pernikahannya ini ke dalam doa. Dia berharap Tuhan Yang Maha Esa bisa menolongnya memberikan pencerahan untuk persoalan yang dia hadapi. Dan Tuhan memang tidak pernah tidur, sodara-sodara! Setelah melewati doa-doa panjang, Tuhan akhirnya menjawab satu per satu pertanyaan dalam benak B yang ia pertanyakan. Saya sempat merinding waktu mendengar B cerita jawaban Tuhan atas pergumulan yang dia hadapi saat ini. Dan saya yakin betul memang Tuhan tidak akan pernah tinggal diam pada umatNya yang memohon padaNya. B pun akhirnya menemukan kelegaan dan jawaban dari pergumulannya. Memang sih pergumulannya nggak langsung hilang begitu saja. Masalah dia masih tetap ada, tapi saya melihat ada satu hal positif dari jawaban Tuhan atas doa yang dipanjatkan sahabat saya tersebut. Dia jadi lebih legowo, lebih berserah pada rencana Tuhan dan lebih tegar :” Saya pribadi jujur saja agak syok (mungkin lebih kepada amazed sih) saat tahu perubahan B. Dia jauh lebih dewasa dalam menyikapi permasalahannya kini. Saya kenal dia sejak kurang lebih 8 tahun lalu dan saya tahu dia orang yang mungkin terlihat tegar di luar padahal di dalam dia sedih luar biasa. Tapi malam ini dia benar-benar bisa merasakan kalau Tuhan memang mengasihi dia 🙂 B benar-benar berpikiran positif dan dia benar-benar bersemangat. Saya yakin semua orang yang akan menikah pasti banyak keinginan untuk menjadikan pesta pernikahannya benar-benar bisa dikenang sepanjang hidup, termasuk juga B. Tapi dari pembicaraan kami, saya merasa B sekarang jauh lebih ikhlas dan nggak ngoyo, dia jauh lebih mengandalkan Tuhan untuk masalah masa depannya ini.

Satu hal yang membuat saya DEG adalah ketika dia juga menegaskan bahwa dia memang sudah mantap untuk menikah. Hal yang sebenarnya mungkin sepele apalagi jika kalian tanyakan pada saya hahaha. Sebenarnya pertanyaan besarnya memang apakah kita sudah siap menikah? Atau jangan-jangan kita mau menikah hanya karena sudah kelamaan pacaran dan sudah nggak mau LDRan seperti saya? Atau memang kita mau menikah karena sudah nggak mau capek kerja jadi lebih baik cari suami biar suami yang kerja terus kita tinggal di rumah saja ngurusin rumah kayak saya juga? Atau mungkin memang kita sudah siap menikah karena kita yakin dengan menikah kita bisa semakin mendekatkan diri padaNya dan membuat hidup kita berubah jadi lebih positif? Atau berbagai macam alasan lainnya? Itulah yang harus dijawab para calon manten… :”

Saya terkesima ketika sahabat saya dengan pasti menjawab memang kodrat wanita tercipta ya untuk melayani suaminya kelak. Dia mempersiapkan dirinya ya untuk menghormati suaminya kelak. Karena dia menyadari dengan menghormati suaminya berarti dia sedang melayani Tuhannya. Bukankah memang Hawa tercipta sebagai penolong untuk Adam? Bukankah memang wanita dijadikan Yang Maha Kuasa sebagai pendamping pria bukan sebagai pemimpin pria? Well, saya memang bukan orang yang relijius banget, tapi saya mengamini hal tersebut. Maksud saya memang begitulah tujuan Tuhan mempersatukan dua insan yang berbeda, bukan? Selain perintahNya untuk beranak cucu di tanah yang Ia berikan ini, tentunya memang kita harus “menyadari” kodrat kita yang diciptakan sebagai “tulang rusuk” dari seseorang yang nantinya akan dipersatukan dengan kita, bukan? :”

Membicarakan pernikahan itu memang nggak ada habisnya, ya. Tapi satu hal yang pasti memang doa itu tak ada duanya apalagi tiga atau empat. Doa dan kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa itulah yang membuat kita menemukan jawaban demi jawaban atas pertanyaan kita khususnya tentang jodoh dan membuat kita tegar di tengah badai kehidupan…

Jadi, kalau ada yang tanya sama saya “sebenarnya kamu sudah siap belum untuk menikah?” Hmmmm…….

Cheers ^^

Iklan
Sunday Talk: [Curhat Calon Manten] Sudah Siapkah Anda (Memulai Hidup Baru)?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s