Finding (Your) Own Happiness

Happiness is….

.
.
.
.

Silakan isi sendiri titik-titik diatas menurut pengertian anda masing-masing, ya. Hehe

Talking about (my) happiness berarti juga membicarakan impian saya ke depan karena happiness bagi saya berarti juga masa depan saya. Meskipun kadang saya suka merasa kebahagiaan saya adalah hal-hal sepele seperti bisa makan daging ba*i atau ngambil duit di ATM saat gajian tiba. Hal semacam itu juga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya, sih…

Happiness comes through pain and hardhips. Istilah kata berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ingat nggak waktu dulu saya atau kalian pernah merasakan susah payah ngerjain skripsi saat mengenyam pendidikan di bangku kuliah? Betapa saat itu saya menginginkan untuk segera lulus dari kampus tercinta dan mencari kerja yang layak. Betapa saat itu saya susah payah mengejar dosen pembimbing skripsi, begadang tiap malam demi melanjutkan paragraf dalam skripsi saya, rela diceramahin dosen native yang galaknya nggak ketulungan, menahan rasa kantuk di perpustakaan demi mencari segelintir teori penelitian, dan bermacam-macam pengalaman yang saat itu membuat saya kesusahan tapi saat ini malah saya kenang sebagai sebuah kenangan yang once in a lifetime. Hahaha. Memorable tapi kalau disuruh skripsi lagi nggak deh yaw~ Setelah melalui berbagai penderitaan yang saya jabarkan akhirnya saya lulus kuliah juga. Wisuda menjadi gong akhir kebahagiaan saya setelah menempuh pendidikan di bangku kuliah selama lebih kurang 3 tahun 9 bulan. Happiness? Ya, itu salah satu kebahagiaan saya saat itu.

Di sisi lain ketika euforia wisuda berakhir dan saya luntang-lantung jadi pengangguran tiada akhir, another hardships ready to come. Oh, sudah datang malah masa-masa sulit itu. Hahaha. Jadi pengangguran itu nggak enak. Setelah lulus kuliah saya sempat menganggur selama kurang lebih 4 bulan. Selama 4 bulan itu saya mencoba mengajukan berbagai macam lamaran ke berbagai macam perusahaan untuk berbagai macam posisi juga, tapi hasilnya nihil. Kadang jika sedang beruntung ada yang mengajak ikut tes, tapi jika tidak ya diam di rumah saja sambil harap-harap cemas. Nggak punya duit selama nganggur sudah biasa. Untungnya sahabat baik saya kadang bagi-bagi kerjaan buat saya (baca: nerjemahin). Lumayan duit hasil terjemahan bisa untuk jajan meskipun cuma jajan ciki. Hahaha. Setelah banting tulang, bersabar, berdoa akhirnya happiness muncul lagi. Kali ini dalam bentuk pekerjaan. Yey, akhirnya kerja juga.

Lulus kuliah sudah. Kerja juga sudah. Dapat gaji tiap bulan sudah biasa. Pacar juga sudah ada dari zaman kuliah. Lalu happiness apa lagi?

Seperti yang menurut saya sih sudah dibilang, happiness is always come through pain and hardships. Saya mengalami masa-masa pacaran yang cukup lama dengan si Mamas. Semua sudah kami lalui bersama. Ditinggal, meninggalkan; disakiti, menyakiti; punya uang, nggak punya uang; bisa kencan hedon, kencan cuma di angkringan; dan berbagai macam kejadian yang kadang kalau saya pikir lagi “Waah, ternyata banyak hal yang sudah kami lalui, ya”. Ya, pikiran semacam itu lah. Akhirnya proses pertama pun tiba. Proses nembung dijalani. Si Mamas dengan gagah memberanikan diri meminta saya pada kedua orangtua saya. Dilanjut Mamas memberikan cincin pada saya yang sampai saat ini tetap melingkar manis di jari saya penanda kalau ada yang siap meminang saya entah kapan hari itu tiba. Hahaha. Jangan tanya tanggal sama saya! Saat ini kami masih berjuang untuk proses-proses selanjutnya. Makanya kalau saya bilang sih ini masih happiness tahap dasar 😀 Tapi menurut saya sudah sampai level happiness, kok. Karena kebahagiaan buat saya adalah ketika bisa melewati berbagai macam suka dan duka hingga akhirnya satu tahap sudah kami lalui bersama. Terharu? Biasa aja bacanya! Hahaha.

Ada berbagai macam happiness lain yang ke depannya ingin saya wujudkan juga. Menikah, punya anak, punya cucu hingga akhirnya dipanggil Tuhan kembali pulang juga sekian banyak dari daftar kebahagiaan saya. Goalnya adalah ketika saya berhasil melewati berbagai macam rupa-rupa kesulitan dan kesukaran yang kemudian digantikan dengan senyum kebahagiaan. Manusia mana yang nggak mau hidupnya senang? Semua orang pasti ingin kehidupannya berjalan lancar dan berakhir happy ending macam di sinetron. Tapi sayang, sebelum si happy ending datang selalu ada kesulitan dan kesukaran yang harus dijalani dulu :’) Prosesnya memang begitu. Jadi lebih baik dinikmati saja tiap proses yang ada dalam menemukan happiness kita. Karena dengan proses itulah kita mengerti esensi kehidupan ini 🙂

Happy finding your own happiness!

Cheers ^^

Iklan
Finding (Your) Own Happiness

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s