Secuil Kenangan di Jogjakarta

Jogja..

Mungkin bagi orang lain nama itu tak ada artinya. Mungkin orang akan biasa saja mendengar cerita tentang Jogja. Tapi tidak bagiku.

Aku merantau ke kota itu 8 tahun yang lalu. Melabuhkan cita-cita dan harapan pada sang kota pelajar. Kala itu Jogja begitu bersahabat. Tangannya terbuka lebar dan setiap sudutnya penuh dengan senyuman bagi para pendatang sepertiku.

Aku ingat betul ketika merasakan duduk dalam kereta malam yang membawaku kala itu ke tempat perantauan. Ada perasaan takjub bercampur penasaran. Akankah Jogja menerimaku dengan ramah seramah apa yang dikatakan orang?

Perjumpaan pertama bertemu dengan Jogja begitu berkesan. Orang-orang ramah berseliweran berlomba-lomba saling membantu. Aroma keramahan dari angkringan di tiap sudut jalan selalu membawaku untuk mampir sekedar mengecap malam-malam panjang. Lampu-lampu pinggir jalan yang temaram seakan tersipu malu untuk sekedar menyapa. Hiruk pikuk sudut gang Malioboro terdengar sangat menggoda. Ya, semua begitu antusias menemani kami para pendatang.

Kini aku sudah tak lagi berada dalam dekapan Jogja. Kota itu telah bertahun lalu kutinggalkan. Namun ada satu hal yang pasti, aku akan selalu rindu untuk pulang ke Jogja, menuju kota itu, untuk sekedar mampir menggali kenangan…

I.E. – 1 Maret 2016

Iklan
Secuil Kenangan di Jogjakarta

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s