Ah, semoga….

Halo, saya balik lagi!
Balik lagi mau curhat sih sebenernya karena saya bingung mau buang sampah curhat di mana lagi selain di sini. Eaa… 😀

Jadi ceritanya nih alkisah ada seorang rekan saya yang sudah menikah. Sebut saja dia Z. Nah, si Z ini sebenarnya baru menikah sih kurang lebih setahun yang lalu *itu bukan baru menikah, ya?*. Hahaha singkat cerita saya datang dong ke acara nikahan si Z setahun yang lalu di Jakarta dan turut berbahagia mendoakan dia waktu kami cipika cipiki di atas pelaminan. Kira-kira begini isi percakapan kami waktu itu:

S (saya): “Selamat ya, Z. Semoga cepet punya dedek-dedek lutchu…” (ngomongnya harus pakek /tch/ biar bibir bisa rada monyong trus pamer gincuk)
Z: “Makasih yaa. Kamu juga semoga cepet nyusul, ya..”
S: ……… -hening sejenak nyengir salah tingkah kemudian turun dari pelaminan-

Ah, begitu saya turun dari pelaminan saya jadi menyesal. Menyesal karena dia sudah menikah dengan yang lain? Bukan, bukan itu. Sungguh! Saya menyesal karena ngapain juga saya bilang semoga cepet punya dedek lucu, kan saya jadi kena zonk dari si Z. Buahahahaha! Zonk yang saya maksud adalah ketika dia turut mendoakan saya biar cepet nyusul, sih.

Duh, jadi begini ceritanya sodara-sodari setanah air. Bukannya saya menolak harapan yang rekan saya sampaikan pada saya. Bukannya saya nggak mau didoain yang baik-baik. Bukan. Tapi yah saya juga sebenernya pengen kok segera nyusul. Pengen juga naik ke atas pelaminan dengan my future husband to be. Pengen! Pengen banget! Saking pengennya saya sampai males deh kalau dateng kondangan. Hahahaha. Jadi sebenarnya di lubuk hati saya yang paling dalam saya merasa agak sedikit sakit hati. Saya ini seorang yang sensitif, melankolis, romantis… jadi kadang saya terlalu perasa banget sama omongan orang lain. Mungkin orang lain tersebut maksudnya memang sungguh-sungguh mendoakan, tapi bagi saya itu masalah yang sensitif, lho *pasang tameng*. Jangan bilang saya nggak pengen kawin, ya! Saya pengen banget nikah. Dulu saya berkeinginan menikah di usia 25 tahun. Jadi saya nanti bisa program punya anak sebelum memasuki usia 30 tahun. Saya nggak pengen keburu tua waktu anak-anak saya membutuhkan biaya besar nanti (read: kuliah). Saya masih pengen bisa kerja ketika anak-anak saya butuh biaya besar-besar macam kuliah itu *sigh* dan saya pengen jadi mahmud juga sih alias mamah muda atau macan ternak sekalian alias mamah cantik masih muda anter anak. Hahaha.

Kadang kita nggak tahu sih orang lain bakal ngomong apa. Kita nggak tahu sih apa orang lain benar-benar mendoakan kita dengan tulus atau nggak *kebanyakan ditusuk dari belakang jadi antipati*. Mungkin saya saja yang kurang piknik jadi semuanya saya tanggapi dengan negatif. Tapi yah.. gimana lagi kalau sayanya sensitif dengan sekedar ungkapan “kapan nyusul?” atau “cepet nyusul, ya”. Nyusul-nyusul emangnya situ mau bayarin catering sama gedungnya?! Kadang pengen banget saya teriak kayak begitu *lap air mata*. Kalau masalah saya soal seputar nikah dan kawin, mungkin beda lagi kalau ada yang ditanyain soal anak. “Kapan punya anak?” mungkin bakal jadi pertanyaan yang menakutkan bagi para pengantin baru? Nggak tahu juga sih soalnya saya belun pernah kawin, eh nikah. Bisa saja si pengantin baru *maaf* belum bisa punya anak. Entah itu karena memang belum diizinkan Yang Maha Kuasa, entah itu memang ada sebab hal akibat lainnya. Dan kita dengan gampangnya bertanya dengan mulut ini “Kapan punya anak?” padahal kita nggak tahu kondisi pasangan tersebut seperti apa…

Balik lagi ke perkara saya belum menikah. Ehem.. Jadi sebenarnya apa dong yang membuat saya belum menikah padahal pacaran lebih lama daripada saya kredit motor…? Yah, ada lah beberapa hal yang membuat saya belum menikah sampai sekarang. Mungkin salah satunya masalah budget, sih. Menikah itu mahal, kan? Iya nggak? *nanya serius*. Meskipun pada akhirnya saya menyerah pada impian saya untuk bisa menikah diiringi Westlife terus diadain di GBK biar serasa konser dengan “selayaknya” dan saya harus menyerah dengan melihat kondisi saldo tabungan saya… *sigh*. Saya kadang menyesal sih, kenapa saya nggak kepikiran nabung buat nikah di awal pertama kali terjun ke dunia kerja. Kenapa saya baru kepikiran buat nabung untuk menikah diusia saya yang soon to be 26 in a couple of months. I hate myself. Dan saya semakin sedih ketika saya harus diberondong dengan pertanyaan “Kapan nikah?”, “Kapan nyusul?”, “Si anu baru pacaran 3 bulan langsung nikah. Lha kamu pacaran 7 tahun nggak kelar-kelar”, kemudian pingsan didera cobaan hidup.

Semisal bapak ibuk saya kaya banyak duit tujuh turunan nggak habis-habis mungkin malam ini juga saya habis update di blog langsung nikah, deh! Tapi sayangnya orangtua saya nggak banyak duit, banyak utang iya! Dan kebetulan saya anak pertama. Dan bapak saya sudah nggak kerja. Dan bapak saya nggak dapet uang pensiun macam PNS diluar sana. Dan saya bingung mau tulis apa lagi… Intinya memang kondisi saya belum dikasih untuk menikah, jadi tolong jangan bilang ke saya “Kapan nyusul?” atau “Semoga cepet nyusul, ya!”. Hati saya rasanya hancur ketika mendengar kata-kata itu. Kecuali kalau kamu ganti kata-kata tadi dengan “Besok nyusul ya sama Mamasmu, aku yang tanggung biaya catering dan gedung.” Saya bakalan ke KUA malam ini juga untuk booking penghulu padahal hari Minggu, KUA tutup, ini weekend, bos! Hahaha.

Yah, gitu deh.. *kibas poni*. Mending sebelum mendoakan seseorang atau ngomong ke seseorang itu dipikirin dulu baik-baik. Takutnya orangnya sensitif kayak saya kan jadinya berabe gini nih langsung curhat diblog…

Cheers ^^

Iklan
Ah, semoga….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s